0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Solo City Jazz bakal Ngamen di Dua Pasar Tradisional

Jumpa Pers Solo City Jazz (dok.timlo.net/heru murdhani)

Solo — Gelaran Solo City Jazz kembali hadir menyapa publik Kota Bengawan. Solo City Jazz ke-8 diselenggarakan selama dua hari, 29-30 September 2017.

“Kali ini kita gelar dua hari, yang pertama kita bikin format Ngamen di Pasar Gede dan Pasar Klewer yakni tanggal 29 September. Pasar Gede sekitar jam 09.30 – 11.00 WIB, dan di Pasar Klewer Jam 13.30 – 15.00 WIB. Kemudian kami ada konser untuk tanggal 30 September di Benteng Vastenburg,” papar humas panitia penyelenggara, Sadrah, Senin (25/9).

Sadrah mengatakan, pengambilan pasar sebagai salah satu opsi pelaksanaan Solo City Jazz ini adalah salah satu dukungan kepada Pemerintah Kota untuk bisa memeriahkan pasar tradisional. Pementasan di pasar ini tidak menggunakan stage dan lighting karena menggunakan crowd pasar sebagai background dan dekorasinya.

Para penikmat jazz berikut musisinya akan merasakan langsung interaksi dengan pedagang dan pembeli di pasar tradisional. Tujuannya adalah memberi hiburan kepada masyarakat Solo khususnya pada pedagang di pasar.

“Artis yang akan hadir di Solo City Jazz hari pertama adalah Ben Sihombing dari Jakarta dan the Rangers dari Solo, mereka akan mengkaver lagu-lagu pop Indonesia atau mancanegara dengan versi mereka,” jelasnya.

Pada hari ke 2 atau puncak acara, akan diadakan di Benteng Vastenburg yang dimulai pada jam 16.00 WIB hingga mendekati tengah malam. Konsep acara Festival dengan 1 panggung dan banyak penampil.

“Kami berharap penonton bisa datang dengan menggunakan pakaian batik, sebagai kampanye penggunaan produk lokal dan kecintaan terhadap produksi dalam negeri,” katanya.

Sementara, Kepala Dinas Pariwisata SOlo, Basuki Anggoro Hexa mengatakan, dirinya mendorong pelaku kesenian untuk membuka lokasi baru bagi penyelenggaraan pertunjukan. Pasar Gede dan Pasar Klewer memang telah menjadi ikon pasar tradisional, dan kerap diangkat sebagai bagian dari pertunjukan. Meski begitu tak menutup kemungkinan pertunjukan digelar di pasar-pasar yang lain. Seperti pasar Klithikan, Pasar Legi, dan lainnya.

“Mungkin kedepan bisa dilakukan dan dieksplorasi ruang-ruang kesenian baru,” katanya.

 

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge