0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Tanpa Bantuan Air dari Luar, Warga Gambirmanis Tak Akan Bertahan Hidup

(Ikatan alumnsi Korps Sukarela (Ikarela) UNS hadir di Desa Gambirmanis, Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri, Minggu (24/9) untuk membantu air bersih di desa tersebut. Total bantuan yang diberikan sejumlah 44 tangki ukuran 6.000 liter. | Ari Kristyono)

TIDAK  ada kesulitan bagi kendaraan roda empat memasuki Gambirmanis, desa di kaki Pegunungan Seribu di selatan wilayah Kecamatan Pracimantoro, berjarak sekitar 50 km dari Kota Wonogiri.  Meski terpencil, setiap jengkal jalan desa tersebut sudah diperkeras dengan beton.

Minggu (24/9/2017) lalu, hujan pertama di ujung kemarau panjang membasahi desa yang mayoritas warganya hidup dari bertani dan beternak lembu itu. Tanah merah di sela-sela batu karang keras, bekas dasar laut yang terangkat menjadi daratan di zaman Pleistosen jutaan tahun silam, sedikit menghitam karena basah. Petani pun bergegas mengayunkan cangkul dan mulai menebar benih kacang tanah, jagung atau ketela.

Sepintas, tidak terlihat ada masalah di Gambirmanis yang penduduknya total berjumlah 5.226 jiwa tersebar di 13 dusun. Sekawanan pemuda desa tampak berseragam sepak bola, siap bertandang laga di desa sebelah. Sejumlah rumah dibangun apik, tak beda dengan rumah-rumah di perkotaan.

“Tapi sebenarnya ada masalah besar di sini. Gambirmanis ini satu-satunya desa di Pracimantoro yang tidak punya sumber air bersih. Setiap tahun kami ibaratnya harus mengemis bantuan air bersih dari banyak pihak,” ujar Sunardi, Kepala Desa Gambirmanis kepada Timlo.net.

Saat berbincang dengan Timlo.net di rumahnya, Sunardi tengah menerima tamu dari Ikatan Alumni Korps Sukarela (Ikarela) Universitas Sebelas Maret yang baru saja membantu air bersih sebanyak 44 tangki ukuran 6.000 liter. Sementara itu di saat yang sama, di balai desa juga menunggu tamu lain yang siap membantu 250 tangki.

Sunardi menuturkan, tanpa bantuan dari pemerintah atau masyarakat, warga Gambirmanis mustahil bisa hidup di musim kemarau. Saat musim hujan, warga bisa menampung air hujan dengan mengalirkan cucuran atap ke bak-bak penampungan di rumah masing-masing.

“Saat  musim hujan berakhir, paling lama 2-3 bulan air mulai sulit. Yang punya uang, bisa beli dengan harga Rp 140.000 per tangki. Tapi yang miskin, hanya bisa mengandalkan air bantuan dari pemerintah. Pada saat seperti ini, tugas utama saya sebagai pamong ya menghubungi banyak pihak untuk minta bantuan air, agar warga saya bisa tetap hidup,” ungkap Sunardi.

Sunardi merinci, jika total 5.226 jiwa masing-masing memerlukan 40 liter air, maka dibutuhkan 209.040 liter atau sekitar 35 truk tangki dalam sehari.

“Ini belum yang punya ternak. Biasanya kami menjual sapi agar bisa membeli air untuk minum ternak. Makanya tidak heran banyak sekali warga kami yang merantau ke kota lain, karena tidak tahan hidup dengan air yang sangat terbatas. Kalau Anda melihat rumah-rumah agak bagus, itu biasanya dibangun oleh mereka yang merantau,” imbuhnya.

Sunardi mengakui, pemerintah tidak tinggal diam menyikapi masalah pelik itu. Sudah beberapa kali ada upaya membangun sumur pantek, namun batal karena perangkat georadar gagal menemukan sumber air bahkan di kedalaman 100 meter.

Dua tahun lalu, pemerintah mencoba mengalirkan air dengan pipa dari sumber di Seropan, wilayah Gunungkidul. Namun proyek itu sempat mangkrak karena pemborongnya kabur, hingga kini pemasangan pipa besi itu dilanjutkan oleh Dinas Pekerjaan Umum. Selain itu, juga ada proyek melapisi dasar Embung Suruhan dengan semen, sehingga tampungan air hujan bisa lebih banyak dan berkualitas layak minum.

“Ya, semoga saja satu saat nanti kami tidak kekurangan air. Tapi hingga sekarang, bahkan meski hujan sudah sekali ini turun, masih ada sekitar beberapa minggu lagi krisis air meliputi kami. Karena itu, tolonglah, jika ada kemampuan bantulah warga Desa Gambirmanis,” ujar Sunardi.

 

Editor : Ari Kristyono

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge