0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ritual Mapag Suro, Ini yang Dilakukan Tiga Pelaku Seni Solo

Ritual Mapag Suro di Tugu Pemandengan, depan Balaikota Solo (dok.timlo.net/heru murdhani)

Solo — Debu yang beterbangan berembus bersama laju kendaraan, Selasa (19/9). Malam itu, jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Di Tugu Pemandengan, depan Balaikota Solo, tiga orang laki-laki dengan mengenakan Penadon (pakaian berwarna hitam dan celana congkrang, khas pakaian Warok Reog Ponorogo) dan iket lurik berjalan menyusuri mengitari tugu sebanyak satu kali.

Ketiga laki-laki itu adalah pelaku seni ritual Kota Bengawan, yakni Suprapto Suryo Dharmo, Ronggo Djati, dan Parsik.

Salah satu diantara mereka menyalakan lilin sebanyak tujuh buah. Lilin tersebut kemudian ditata sedemikian rupa, dan ditutup dengan menggunakan secuil batang pisang di sekitar tugu. Seseorang lain menggelar tikar dan mengeluarkan dupa dari balik saku celananya, dan yang lainnya berupaya menghidupkan arang kayu diatas Kutuk (tungku kecil).

Angin yang berembus cukup kencang, menyulitkan nyala api. Peristiwa ini terjadi beberapa saat. Pengguna jalan yang kebetulan melintas memperlambat laju kendaraannya untuk menyaksikan apa yang dilakukan ketiga orang tersebut. Beberapa pengguna sepeda motor bahkan sengaja berhenti untuk menyaksikan momen tersebut, dan yang lain mengabadikannya melalui kamera telepon selular.

Seakan tak terganggu dengan kondisi sekitar, ketiga orang tersebut mulai membakar kemenyan di atas tungku. Ketiganya kemudian duduk bersila dibelakang tungku, asap pekat dengan aroma khas mengepul dari pedupaan. Suasana jalanan yang cukup ramai berubah menjadi sakral dan mistis.

Usai berdiam beberapa saat, ketiganga meraih dupa yang tersisa disamping tungku. Dupa dibagikan, masing-masing mendapatkan tujuh batang. Suasana kembali hening. Dupa diangkat sebanyak tujuh kali dan lantas ditancapkan di atas rerumputan.

Dalam gerakan lambat, Suprapto yang berada di posisi paling depan, bangkit berdiri. Dengan gerakan bak penari, laki-laki tersebut mulai mengitari Tugu Pemandengan sebanyak tiga kali.

“Banyak sekali angka tujuh dalam ritual ini. Tujuh atau Pitu dalam bahasa Jawa, kita mengharapkan Pitulungan (Pertolongan) dari Gusti Allah.” papar Ronggo Djati usai menggelar ritual Mapag Suro tersebut.

Mapag Suro dalam bahasa Indonesia dapat diartikan Menjemput Bulan Suro. Ritual ini dilakukan menjelang perayaan Malam Satu Suro dalam kalender Jawa. Ritual Mapag sendiri dikenal luas dalam masyarakat khususnya di pulau Jawa. Mapag Sri atau Mapag Dewi Sri dikenal oleh masyarakat Majalengka dalam menyambut panen raya. Sedangkan di Jawa Timur masyarakat mengenal ritual Mapag Tanggal bagi wanita yang sedang hamil.

Berbeda dari tahun sebelumnya, upacara Mapag Suro kali ini berlangsung dalam suasana keprihatinan. Hal ini berhubungan dengan peringatan satu Suro tahun 1951 sesuai perhitungan kalender Jawa (2017 Masehi), yang memasuki tahin Dal (Siklus delapan tahunan penanggalan Jawa).

“Kita bersyukur bisa memasuki tahun Dal ini, dan memohon kepada Gusti Allah untuk bisa melewati tahun Dal ini dengan baik. Tahun Dal biasanya akan murah sandang dan pangan, meskipun tak jarang banyak gegeran (kericuhan).” pungkas Ronggo Djati.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge