0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Meski Peringatan 1 Suro Berbeda, Namun Tetap Harmonis

Tunjung W Sutirto (timlo.net/eko prasetyo)

Solo – Peringatan 1 Suro antara Keraton Kasunanan Surakarta dengan Puro Mangkunegaran terjadi perbedaan. Puro Mangkunegaran dan masyarakat Jawa umumnya, dilaksanakan pada tanggal 20 September 2017 malam. Tetapi Keraton Kasunanan baru tanggal 21 September 2017 malam.

”Dalam penanggalan Jawa mengenal pendekatan penanggalan Asapon dan penanggalan Aboge. Kedua penanggalan itu ada selisih perhitungan, biasanya selisih satu hari. Untuk Keraton Kasunanan Surakarta menggunakan pendekatan penanggalan Aboge,” jelas Pakar Sejarah Universitas Sebelas Maret (UNS), Tunjung W Sutirto kepada Timlo.net, di Kampus UNS, Solo, Selasa (19/11).

Menurut dia, penanggalan Asapon cenderung mendekati perhitungan masehi, tetapi penanggalan Aboge cenderung perhitungan Jawa. Meskipun ada perbedaan pendekatan tetapi pelaksanaan penanggalan Jawa itu tetap harmonis.

“Buktinya peringatan malem satu Suro, meski kadang selisih satu hari, pada kenyataannya tidak ada yang menolak. Apalagi abdi dalem keraton dalam melaksanakan acara peringatan sudah sesuai dawuh (perintah) Sri Susuhunan (Raja Kasunanan). Bahkan perbedaan pendekatan itu dimaknai sebagai kearifan lokal,” ujarnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, perbedaan antara Asapon dan Aboge terjadi berangkat dari cara meninjau peredaran bulan sebagai dasarnya. Lain halnya perhitungan Masehi yang bertitik tolak dari peredaran Matahari.

“Bila mendasarkan pada peredaran Bulan, Sebulan terhitung 29,5 hari. Sehingga dalam penanggalan Jawa ada versi Alip Selasa Pon (Asapon) dan ada Alip Rebo Wage Aboge),” ungkapnya.

Mantan Kepala Humas UNS ini menyebut, jatuhnya tanggal 1 Suro kadang bersamaan tetapi kadang berbeda. Sama atau berbeda itu terjadi siklus dalam delapan tahun sekali.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge