0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

SIPA, Gaya Gayo Sajikan Saman dalam Balutan Etnic Progresif

Gaya Gayo tampil di panggung SIPA (dok.timlo.net/heru murdhani)

Solo — Ada dua kejutan saat menyaksikan penampilan Gaya Gayo di panggung Solo International Performing Art (SIPA), di Banteng Vastenburg, Kamis (7/9) malam. Kejutan yang pertama adalah suguhan berupa tari Saman yang merupakan tari khas Gayo Lues, Aceh yang biasanya dibawakan dengan full body percussion, kali ini dibawakan dengan iringan biola dan gitar. Sedangkan yang kedua adalah tampilnya Joel Tampeng yang selama ini dikenal publik sebagai gitaris musik bergenre rock altetnatif ke panggung tradisi.

“Sebenarnya sudah lama, sejak tahun 2006 kita mulai kelompok Gaya Gayo ini. Hanya saja memang untuk karya Saman ini kita mulai konsentrasi pada tahun 2014.” kata Joel membuka sesi wawancara bersama sejumlah awak media.

Suara gitar dengan efek khusus melengking-lengking mengikuti sapuan tanggan Joel Tampeng yang menjalar disepanjang leher gitar. Sebuah komposisi gitar dipertunjukkan kepada penonton selama beberapa menit, seakan ingin menunjukkan kehadiran gitaris Kantata Barock tersebut menyapa publik Solo.

Disisi lain Jackart yang memainkan violin tak kalah semangat dalam menggesekkan bow-nya. Perpaduan dua alat musik ini cukup menyita perhatian penonton sebelum tujuh orang penari Saman memulai gerakan rampak perkusinya.

“Spiritnya memang Rock. Karena Saman sendiri memang tidak memiliki musik khusus dalam tariannya. Karenannya kita coba mainkan Saman dengan Body Percusion-nya kita padu dengan gitar dan biola dan alunan vokal dalam bahasa Gayo yang menciptakan suasana sakral, mistis, sekaligus baru,” kata dia.

Gaya Gayo sebagai kelompok berfokus pada pengembangan tradisi Nusantara, terutama dalam kaitannya dengan musik dan komposisi. Seakan ingin mendobrak tatanan pada tradisi, komposisi gerak dan bunyi pada Rhythm Of Saman ini menolak memakai kain Satin dan iringan tradisional dan justru memilih etnic progresif sebagai jalurnya.

“Kita juga ingin memperkenalkan Saman ini sebagai sesuayu yang lama tetapi baru. Sebab secara bahasaada sesuatu yang salah kaprah tentang Saman. Sejak tahun 1970an di Aceh tari Saman biasa digunakan untuk menyebut tari yang dibawakan oleh perempuan, berjumlah ganjil, memakai kain tradisional dan lainnya. Padahal itu sebenarnya adalah tari Rantoh Duk atau Rantoh Jaro yang dimiliki masyarakat Aceh pesisir. Mereka menggunakan bahasa Aceh, juga terselip doa-doa dalam bahasa Arab. Sedangkan Saman, itu asli Gayo, yang ada di Lues, atau Takengon. Karenanya ini purba tetapi juga baru.” terang Trisa Rizky yang juga merupakan konseptor sekaligus koreografer Gaya Gayo.

Diterangkan selain sebagai seni gerak dan seni suara, Saman juga mengandung seni tutur yang luat biasa. Syair-syair yang dibawakan dalam bahasa Gayo tersebut selain berisi doa, juga berisi nasehat, harapan, bahkan kabar berita.

Gaya Gayo sendiri tak baru sekali ini menyapa Publik Solo. Beberapa waktu yang lalu mereka hadir sebagai penyaji dalam forum diskusi dua bulanan Bukan Musik Biasa di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah.

 

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge