0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kepergok Curi Uang di Sekolah, Bocah Kelas 2 SD Menangis Histeris

(Ilustrasi) Pencuri (dok.merdeka.com)

Timlo.net —  AR, bocah kelas 2 sebuah SD di Samarinda, Kalimantan Timur, menangis histeris setelah tepergok mencuri uang di dash board motor terparkir di halaman sekolahnya oleh petugas keamanan. Kasus itu akhirnya diselesaikan dengan memanggil orang tua AR.

Pencurian itu terjadi Senin pagi di sela berlangsungnya upacara bendera. Gerak gerik AR, terlihat mencurigakan. Tanpa AR sadari, satpam sekolah terus mengawasinya.

Apes, saat dia mengambil uang dari dashboard motor matik, satpam langsung melakukan tangkap tangan. Terkejutnya AR, hingga dia akhirnya terlihat pucat dan menangis meminta ampun.

Dari tangannya, terlihat uang receh pecahan Rp 500 dengan total Rp 3.500. Barang bukti beserta dengan AR pun dibawa ke kantor sekolah.

AR mengaku tidak sendiri melakukan aksinya, melainkan disuruh saudara sepupunya, PK (14), seorang pengangguran. Tujuannya, agar PK mendapatkan uang untuk sekadar jajan. Diduga, PK sudah berulang kali meminta AR, untuk mengambil uang yang ada di dashboard motor yang diparkir di halaman sekolah.

“Saya disuruh dia (PK) ngambil uang di (dash board) motor. Sering saya disuruh. Kalau tidak mau, saya dipukul,” kata AR polos, saat menjelaskan kepada gurunya di kantor sekolah.

Sementara, Anang, satpam sekolah menjelaskan, dia terus mengawasi gerak gerik AR dan PK yang mencurigakan dan terlihat gusar, sejak upacara bendera.

“Sejak apel, mereka ini sudah keluar masuk halamam sekolah. Kami sebagai keamanan, merasa curiga. Jadi, setiap motor dilihatnya satu persatu. Kemudian, tidak lama keluar dari gerbang, dan yang disuruh mengambil ini (AR) ini masuk (ke halaman sekolah). Setiap motor diparkir, diperiksanya,” ujarnya.

Bagi sekolah, peristiwa itu tidak sampai dibawa ke kepolisian. AR sendiri dinilai sebagai korban dari ulah PK. Tidak hanya AR, PK pun ikut menangis saat dibawa ke kantor sekolah.

“Yang jelas, kita sadarkan, dan kita panggil orangtua agar ada kerjasama antarsekolah dan orangtua. Anak ini (AR), diperalat oleh anak luar. Oleh sebab itu, dari pihak yang menyuruh itu (PK), orangtuanya juga kita panggil,” kata Kepala SDN 003, Tauhid.

[gil]

Sumber : merdeka.com

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge