0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Psikolog Harvard: Memaksa Berpikir Positif Tidak Buat Kita Bahagia

Ilustrasi beragam emosi. (dok: timlo.net/ bryankramer.com )

Timlo.net—Semua manusia pasti pernah merasakan berbagai emosi yang berbeda. Kadang-kadang mereka dipenuhi dengan kesedihan, merasa kebahagiaan yang luar biasa atau gemetar karena rasa marah. Kebanyakan orang diajari untuk mengatur beragam emosi ini dengan cara hanya membagikan yang positif. Kita diajarkan untuk menekan atau meminta maaf bila merasakan emosi-emosi negatif. Pada intinya, kita dilarang untuk berpikir terlalu dalam soal perasaan negatif kita.

Dalam bukunya, “Emotional Agility: Get Unstuck, Embrace Change and Thrive in Work and Life,” profesor Harvard Medical School dan psikolog Susan David menantang cara menangani emosi seperti itu. Susan menyatakan jika kita harus memberikan perhatian yang dalam terhadap apa yang kita rasakan. Bila diolah dengan baik, maka perasaan, pikiran dan narasi pribadi di dalam diri bisa menjadi guru terbaik kita.

Dalam wawancara dengan The Washington Post, Susan juga mengkritik budaya dalam masyarakat yang menekankan pikiran positif untuk meraih kebahagiaan. “Banyak dari dialog budaya kita secara dasar bersikap menghindari, jadi orang-orang hanya akan berkata hal-hal seperti, ‘bersikaplah positif dan segalanya akan menjadi lebih baik’. Hal itu oleh teman saya disebut sebagai tirani kepositifan,” ujar Susan.

Baca juga: Penelitian Ungkap Jika Kita Menerima Perasaan Negatif, Kita Akan Lebih Bahagia

“Dia baru-baru ini meninggal karena kanker, dan apa yang dia maksud adalah jika pulih dari kanker hanyalah masalah berpikir positif, maka semua temannya penderita kanker payudara akan hidup saat ini. Dengan mengirim pesan jika pikiran kita bertanggung jawab menciptakan kesehatan, kesejahteraan diri dan realita kita, kita terlalu mengunggulkan kekuatan pikiran kita, sementara membuat orang merasa bersalah karena saat sesuatu yang buruk terjadi pada mereka. Mereka merasa jika hal itu terjadi karena mereka merasa kurang positif,” tambahnya.

“Yang benar-benar dijamin dalam hidup adalah hidup kita tidak akan selalu baik. Anda sehat, sampai Anda sakit. Anda bersama dengan orang yang Anda kasihi, sampai kalian berpisah. Kita akan menemukan diri kita dalam situasi di mana kita merasa marah, sedih, berduka dan lain-lain. Kecuali kita bisa memproses, menavigasi dan menjadi nyaman dengan beragam emosi kita, kita tidak akan belajar menjadi tangguh. Kita harus berlatih bagaimana menghadapi emosi-emosi itu atau kita akan kewalahan. Saya percaya budaya yang fokus pada kebahagiaan dan berpikir positif sebenarnya membuat kita kurang tangguh,” terang Susan.

Dia menjelaskan jika perasaan seperti kesedihan, rasa bersalah, duka dan kemarahan adalah cahaya penuntun untuk nilai-nilai hidup kita. Kita tidak akan marah tentang hal-hal yang tidak penting bagi kita. Kita tidak akan merasa sedih atau bersalah tentang sesuatu yang tidak berarti. Jika kita berusaha mengusir perasaan-perasaan kita, kita memilih untuk tidak belajar tentang diri kita sendiri. Kita memilih untuk mengabaikan nilai-nilai yang kita anggap penting dan apa yang kita anggap penting.

“Dan hal terakhir, saat kita berkata kepada diri kita sendiri untuk ‘berpikir positif’ dan untuk mengusir perasaan negatif atau sulit, hal itu tidak akan bekerja. Cara seperti itu tidak berhasil,” tambahnya.

Editor : Ranu Ario

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge