0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Dana Hibah Keraton Terganjal Pembentukan Lembaga Pengelola

Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (dok.timlo.net/red)

Solo – Lambatnya proses pembentukan lembaga pengelola Keraton Surakarta dikhawatirkan mengganggu penyaluran dana hibah dari pemerintah untuk Keraton Surakarta. Lembaga tersebut sedianya akan menjadi lembaga penerima dan pengelola dana hibah.

“Kalau belum terbentuk, kita tidak bisa mencairkan. Dicairkan ke siapa,” kata Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Solo, Eny Tyasni Suzana, Sabtu (12/8).

Sampai saat ini, lembaga tersebut belum selesai dibentuk. Laporan terakhir yang diterima Eny, struktur bebadan internal Keraton sudah selesai disusun. Namun dalam struktur tersebut masih banyak posisi yang kosong sehingga Pemkot belum bisa memberi pengesahan terhadap lembaga tersebut.

Pemerintah Kota (Pemkot) Solo berharap bebadan internal Keraton Surakarta selesai dibentuk paling lambat September mendatang. Hal ini terkait dengan masalah pencairan dana hibah dari Pemkot maupun Pemerintah Provinsi. Bila tidak segera dibentuk, otomatis pencairan dana hibah akan terus molor.

“Tentunya akan sangat mengganggu. Waktunya kan tinggal beberapa bulan untuk menggunakan dana itu,” kata dia.

Pemkot hibah sebesar Rp 300 Juta untuk Keraton Surakarta. Dana tersebut sedianya digunakan untuk operasional Keraton seperti pelaksanaan upacara-upacara adat dan gaji Abdi Dalem. Di lain pihak, Keraton juga dituntut untuk menyusun Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) terkait pemanfaatan dana tersebut.

“Kalau dari Pemprov sepertinya juga ada. Tapi saya tidak tahu berapa,” kata dia.

Sementara itu, salah satu kerabat Keraton, KGPH Dipokusumo mengaku kesulitan mencari personel untuk mengisi posisi yang ada. Keraton menginginkan personel yang memiliki pemikiran inovatif namun tetap mengakar kepada budaya dan tradisi keraton.

Padahal, menurut Dipokusumo, ada sekitar 100 jabatan yang harus diisi untuk melengkapi struktur bebadan internal Keraton itu.

“Tidak banyak orang yang punya pemahaman budaya dan tradisi tapi pemikirannya inovatif,” kata dia.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge