0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ini Tantangan Kepemimpinan Dalam Era Digital

Seminar “The Art of Leading People in Digital Era” . (dok: timlo.net/catur.)

Solo—Generasi Y atau generasi millenial adalah generasi yang saat ini mendominasi jumlah tenaga kerja di dunia. Generasi Y adalah generasi yang lahir antara tahun 1980-an hingga akhir 1994. Sementara generasi X yang lahir pada 1965 hingga 1980-an biasanya menduduki posisi manajerial atau kepemimpinan. Perbedaan budaya dan pola berpikir di antara dua generasi ini menimbulkan gejolak dan persoalan dalam perusahaan. Hal itulah yang dibahas dalam seminar “The Art of Leading People in Digital Era” yang digelar Oasis Developing Center bersama Paduan di Orient Restaurant & Convention Hall, Solo, Sabtu (12/8) pagi.

“Biasanya orang beranggapan jika generasi Y adalah generasi yang malas dan memiliki tingkat loyalitas yang rendah. Dalam seminar ini kami ingin membahas bagaimana memimpin generasi Y ini,” ujar Henky Tjan, panitia seminar kepada Timlo.net di sela-sela acara.

Generasi Y adalah generasi yang besar di era digital yaitu era di mana kehidupan manusia diliputi, dikontrol dan digerakkan oleh dan dengan teknologi digital. Generasi ini digambarkan sebagai generasi yang tidak seulet generasi pendahulunya karena dimudahkan dengan teknologi. Selain itu, generasi Y juga dikatakan memiliki loyalitas yang rendah terhadap perusahaan. Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi dan informasi, tidak sulit bagi generasi Y untuk memperoleh informasi terkait lowongan pekerjaan. Itulah sebabnya generasi Y mudah sekali berpindah pekerjaan jika mereka merasa tidak cocok dengan perusahaan di mana mereka bekerja.

Samuel Gunawan Wijaya, Direktur PT. Nagabhuana Aneka Piranti dan salah satu pembicara dalam seminar itu beranggapan jika dua hal itu hanyalah sisi negatif dari generasi Y. “Kalau dikelola dengan baik, potensi generasi Y dalam dunia kerja luar biasa,” ujarnya.

Samuel menambahkan model kepemimpinan dalam perusahaan yang digunakan generasi sebelumnya tidaklah cocok untuk generasi Y. Menurutnya generasi ini adalah generasi yang suka berpikir kritis dan tidak suka jika hanya diperintah atau diatur-atur. Untuk mengelola potensi generasi millenial ini diperlukan kepemimpinan yang solid. Pemimpin perusahaan harus bisa melatih dan menginspirasi pegawai dari generasi ini, mereka harus bisa menjadi teladan. Tidak cukup hanya asal perintah seperti dulu,” ujar Samuel.

Sementara itu dalam sesi “Maximizing People Through Leadership Coaching”, Andrew Abdi Setiawan dari Oasis Developing Center mengungkapkan jika coaching adalah metode yang tepat untuk memaksimalkan potensi pegawai. Andrew mengungkapkan jika keefektifan training itu hanya sekitar 20%.

“Coaching adalah bentuk kemitraan antara pemimpin dan karyawan untuk memprovokasi pikiran dan kreativitas mereka,” ujarnya.

Coaching, menurut Andrew juga merupakan model kepemimpinan yang cocok digunakan di era digital ini. Dia menambahkan dalam metode coaching pemimpin dan pegawai dalam posisi sejajar. Pemimpin tidak hanya mendikte dan memerintah. Tapi mereka mengajak bawahan mereka untuk ikut berpikir dan merasa memiliki perusahaan.

Editor : Ranu Ario

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge