0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Polisi Gagalkan Pengiriman TKI Ilegal ke Abu Dhabi

(merdeka.com)

Timlo.net – Polisi menggagalkan pengiriman TKI ilegal ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Perusahaan yang diketahui bernama PT Nurafi Ilman Jaya (NIJ), masa izin usaha dan operasionalnya sudah habis.

Sedikitnya enam tersangka telah ditangkap yakni penanggung jawab PT NIJ Al Fadel Assagaf (39), Admin Muliati (37), pengelola penampungan Hera Sulfawati (47), pengurus visa Abdul Rahman Assagaf (59), Direktur Husni Ahmad Assagaf (47), dan pihak sponsor Haji Abdul Badar (35).

“Korban yang berhasil diamankan sejauh ini 10 orang, yaitu AN, AR, MY, YI, NJ, JR, SW, NF, AN, dan NN. Hasil pemeriksaan para tersangka yang disebutnya jaringan Fadel di Abu Dhabi sudah mengirim 110 tenaga kerja Indonesia (TKI) dalam kurun waktu dari 2016 sampai Juli 2017,” kata Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Ari Dono Sukamto, Kamis (10/8).

“Total uang dalam perputaran TPPO ini mencapai USD 350.000 atau Rp 4,5 miliar dari agen Abu Dhabi Honesty atas nama Mr Habeeb. Agen di Abu Dhabi ini mengirim ke jaringan Fadel sekira USD 3.200 per TKI,” sambung Ari.

Lebih lanjut, Ari menerangkan uang dalam jumlah besar tersebut masing-masing diserahkan kepada tersangka. Untuk sponsor diberikan Rp. 1,4 miliar, pengurus paspor dapat Rp. 330 juta, pengurus surat sehat ke klinik Rp. 143 juta, pengurus visa ke tersangka ARA yang bekerja sama dengan HP selaku Direktur PT NIJ sebesar Rp. 268 juta.

Dana tersebut ternyata juga mengalir ke jaringan yang ada di bandara atas nama S, yang diduga menerima uang Rp. 600 juta. Uang itu diberikan kepada S, sebagai imbalan karena telah membantu proses pemberangkatan 110 TKI di bandara.

“Dana itu juga digunakan oleh jaringan Fadel untuk membeli tiket dari biro perjalanan (travel) kurang lebih Rp. 880 juta per 110 TKI ke Abu Dhabi. Rutenya, dari Jakarta transit di Singapura, baru terbang ke Dubai,” terangnya.

Hasil pengembangan dari jaringan Fadel, akhirnya Bareskrim Polri membongkar jaringan Cianjur yang dipimpin Haji Abdul Badar. Abdul Badar sendiri mengaku, selain menerima pesanan dari Fadel, dirinya juga menerima pesanan dari jaringan serupa untuk tujuan ke Arab Saudi, Asia Pasifik dan Malaysia.

“Tersangka HAB ini mengakunya sudah 360 korban calon TKI yang dia rekrut untuk pergi kerja ke luar negeri secara ilegal. Keuntungannya beragam,” ujarnya.

Ari memaparkan keuntungan yang didapat oleh pelaku sebasar Rp 4,68 miliar. Keuntungan itu didapat dari paspor tidak aktif atau yang tidak memiliki paspor calon TKI sebesar Rp 13 juta perorang. Sedangkan keuntungan dari paspor aktif calon TKI sebesar Rp. 5,4 miliar. Keuntungan itu didapat dari calon TKI yang memilik paspor aktif sebasar Rp 13 juta per orang.

“Hal ini didasari dari data dan fakta, serta barang bukti yang ditemukan bahwa dalam pengiriman calon TKI ke negara Timur Tengah selalu ada surat lulus pemeriksaan medis dari klinik kesehatan. Itu dikeluarkan sebagai syarat mengeluarkan visa kerja,” jelas dia.

Sampai saat ini, polisi masih terus mengembangkan kasus tersebut (jaringan Fadel). Dengan adanya kasus ini, Ari berharap pemerintah bisa membuat terobosan hukum yang memungkinkan penyelidik memeriksa klinik-klinik yang terindikasi membantu TPPO.

Para tersangka jaringan Fadel ini dikenakan pasal 102 UU RI No 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri. Ancaman hukuman minimal 2 tahun dan maksimal 10 tahun penjara.

[rhm]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge