0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Jutaan Warga Jawa Tengah Terancam Kekeringan

Tanah terdampak kekeringan (dok.timlo.net/gg)

Solo — Sebanyak 1,4 juta jiwa di Jawa Tengah terancam kekeringan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng menyiapkan strategi untuk mengantisipasi terjadinya krisis air bersih dan dampak kekeringan lainnya.

“Seluruh Jateng sudah kita dorong untuk tanggap darurat. Karena beberapa daerah sudah mulai kekeringan,” kata Kepala Pelaksana Harian (Kalahar) BPBD Jateng, Sarwa Pramana, di Solo, Kamis (10/8).

Di Jateng terdapat 1.235 desa di 266 kecamatan rawan kekeringan. Krisis air bersih mengancam 1,4 juta jiwa yang tinggal di daerah-daerah tersebut. Dibanding populasi total Jateng yang mencapai  35 juta jiwa, jumlah tersebut  memang relatif kecil. Hanya sekitar 4 persen. Namun BPBD tetap menyiapkan langkah antisipasi terutama untuk mencegah dampak lain seperti kebakaran lahan dan hutan yang bisa berdampak luas. Apalagi kondisi geografis Jateng yang berbeda dengan daerah-daerah lain.

“Kalau di luar Jawa ada banyak sungai besar yang bisa diambil airnya untuk bom air. Kita tidak bisa,” kata dia.

Sementara itu, menurut data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Jateng belum memasuki puncak kemarau. Namun saat ini kekeringan sudah mulai terjadi di 10 daerah seperti Banjarnegara, Wonosobo, Banyumas, Blora, Klaten, Wonogiri. Dropping air bersih sudah dilakukan di daerah-daerah tersebut di

“Sebagian daerah sudah mulai mengalami kekeringan. Bahkan kita sudah mulai dropping air bersih di 46 desa di 22 kecamatan,” katanya.

Desa yang dimaksud Sarwa tersebar di 10 Daerah di Jawa Tengah. Di antaranya Banjarnegara, Wonosobo, Banyumas, Blora, Klaten, Wonogiri, dan Sragen. Diperkirakan intensitas dropping akan terus meningkat mengingat saat ini hujan masih terjadi di sejumlah daerah.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge