0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

TimloMagz

Modal Nekat dan Berani

()

Timlo.net – Bagi sebagain orang, ijazah dari perguruan tinggi merupakan modal awal yang harus dimiliki agar dapat meraih sukses. Namun hal itu ternyata tidak berlaku bagi Ananta Dwi Rajasa, pria kelahiran 1971 ini justru berani keluar dari bangku perkuliahan demi meraih impiannya.

Owner dari dari Robota Robotics School ini sebelumnya mengaku pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Kedokteran, Teknik Kimia dan Informatika dari berbagai perguruan tinggi. Namun semua jurusan yang pernah ditempuhnya itu tidak pernah ada yang lulus. Bukan persoalan ekonomi yang menjadi penyebab, tapi ia mengambil pilihan keluar dari bangku kuliah lantaran merasa tidak nyaman dan dianggap membosankan.

“Karena saya beranggapan bahwa kuliah itu bukan untuk mengejar ijazah, tapi mencari ilmunya,” ujar bapak dua anak ini kepada TimloMagz belum lama ini.

Karena kemahirannya dalam dunia informatika, ia juga sempat dipercaya untuk menjadi salah satu tenaga pengajar di salah satu sekolah swasta. Selama menjadi pengajar itu, ia justru merasakan ada kenyamanan dan gairah tersendiri bergelut di dunia pendidikan.

Hingga akhirnya, karena hobinya suka otak-atik teknologi dari sana terbesit ide untuk membuat tempat kursus dengan fokus utamanya mengenai robot.

“Saya tertarik dengan robot karena erat kaitanya dengan teknologi dan robot juga berbi­cara tentang masa depan. Dan kalau kita melihat sekarang ini, hampir semua sudah menggunakan teknologi robotic, mulai dari mobil yang bisa parkir sendiri, toilet, drone dan lainnya,” jelas dia.

Menariknya, saat merintis usahanya itu ia mengaku hampir tidak memiliki modal sama sekali. Bahkan saat membuat brosur harus nekat utang ke percetakan. Tidak ada alamat lokasi, didalam brosur yang disebar ke sekolah-sekolah itu hanya tertera nomor telepon. Namun tidak disangka, animo orang tua yang ingin mendaftarkan anaknya luar biasa tinggi. Dari yang dia ingat, ada sekitar 50-an orang tua yang menghubunginya untuk mendaftarkan anaknya kala itu.

“Karena belum memiliki tempat dari situ saya sempat bi­ngung, akhirnya saya pinjam rumah milik saudara di Madyotaman yang tidak digunakan, dan garasinya saya gunakan untuk sanggar robotic,” jelasnya.

Setelah mendapatkan tempat untuk me­ngajar, ia juga mengaku masih kesulitan. Mengingat masih ada alat yang harus dibutuhkan untuk mengajar robot, dan itu harganya tidak murah. Dari situ akhir­nya ia berfikir ulang, dan kemudian nekat untuk menghubungi kembali yang mendaftar.

“Mereka yang serius ingin belajar kursus robot, saya tawarkan beberapa paket dan mereka saya minta untuk daftar ulang serta membayar uang muka. Dari situ uangnya saya gunakan untuk membeli alat,” tandasnya.

Dari hasil kerja keras dan usahanya itu, akhirnya sekarang berbuah manis. Bahkan usaha yang telah dirintis sejak 2006 itu, kini telah berkembang pesat dan berhasil melakukan ekspansi keberbagai daedrah, mulai dari Jakarta, Medan, Yogyakarta dan lainnya.

Untuk wilayah Soloraya sendiri, ia mengaku sudah ada 16 sekolah yang melakukan kerjasama dengan Robota Robotics School. Anak didiknya pun juga tidak sedikit yang berhasil menjuarai olimpiade robotic tingkat nasional.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge