0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Patut Ditiru, Kreativitas Pemuda Dusun Selo Ngehits di Medsos

Selfie di Lincak Anti Galau Kampung Kreatif, Selo, Pojok, Tawangsari, Sukoharjo (dok.timlo.net/putra kurniawan)

Sukoharjo — Memasuki sebuah dusun di Desa Pojok, Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo, mata langsung disuguhi aneka ragam gambar di jalan masuk kampung. Tidak hanya itu, sejumlah ornamen dari bambu yang dicat warna warni juga menghiasi jalan masuk Dusun Selo sejak dua bulan terakhir.

Dan ketika memasuki kampung, lukisan dan ornamen yang menghiasi sepanjang jalan semakin banyak dan beragam. Semua ini adalah hasil karya pemuda Dusun Selo, Desa Pojok, Kecamatan Tawangsari yang berniat untuk mengembangkan potensi kampungya sebagai Desa Wisata Kreatif.

“Ini semua adalah karya dari pemuda dan  hampir seluruh warga Dusun Selo yang memang mulai sadar untuk ikut membangun desanya. Dan ini setiap hari masih kita lakukan penambahan dan pembahruan karena baru dua bulan ini kita bikin,” kata inisiator Kampung Kreatif Dusun Selo, Wahyu, Sabtu (5/8).

Ide awal dari Kampung Kreatif Selo ini tidak bisa lepas dari sentuhan Wahyu (31). Ya, lulusan Ilmu Filsafat UGM Yogyakata ini memang ingin membangun kampung halamnnya. Bermodalkan kenekatan dan ilmu yang diperoleseh selama tinggal di Kota Yogya sebagai mahasiswa, bapak satu anak ini mulai membuat lukisan dan ornamen di depan rumahnya sendiri.

Berawal dari provokasi positif ini, akhirnya pemuda dan warga mulai tergeak hatinya untuk ikut menghias kampung dengan aneka gambar dan ornamen dari barang-barang bekas. Pemanfaatan barang bekas memang sekaligus untuk emnyadarkan masyarakat agar bisa mengelola sampah dengan baik.

“Awalnya di sini banyak sampah yang tidak dikelola dengan baik dan hanya dibuang begitu saja tanpa memikirkan dampak lingkunga. Akhirnya sedikit demi sedikit kita bangun bank sampah dan akhirnya berkembang terus dan sudah berjalan sekitar delapan bulan ini,” ungkapnya.

Sampah-sampah warga dikumpukan di bak sampah sebagai tabungan bagi masyarakat yang sampi sekarang per orang bisa menabung mulai Rp 50 ribu hingga Rp 200 ribu per bulannya. Sampah tersebut dipilah sesuai jenis dan sebagian didaur ulang menjadi kerajinan dan ornamen yang dipasang di jalan kampung.

Sadar harus membuat sesuatu yang berbeda, Wahyu bersama para pemuda di kampungnya membuiat sebuah ikon untuk kampungya dengan Lincak Anti galau. Lincak yang terbuat dari anyaman bambu diberikan warna-warni dan dihiasai ornamen yang cukup menarik sebagai spot foto selfie.

“Kita ingin menciptakan sesuatu yang berbeda dan ikonik kampung kami, dan akhirnya ketemu Lincak Anti Galau. Selain itu karena lincak sudah melakat di kami, sehingga ada dua lincak lagi, Lincak Move On dan Lincak Katresnan untuk memompa semangat pemuda dan remaja khusunya,” ungkap pegiat PNPM Desa Pojok tersebut.

Ke depan, di Dusun Selo juga akan dikembangkan untuk perbaikan bank sampah, pembibitan tanaman pangan, pengembangan hydroponik, kerajinan tenun dan outbond. Diharapkan, dengan adanaya kampung wisata kreatif ini dapat meningkatkan taraf hidup warga dan juga memberikan edukasi kepada anak-anak dan pemuda untuk mengembangkan potensinya masing-masing.

“Inti dari semua yang telah kita lakukan inia adalah, yang pertama untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan memaksimalkan potensi yang ada. Karena kita tidak punya potensi alam yang mendukung, ya bisanya kita ciptakan sendiri dan mudah-mudahan seperti harapan,” tandasnya.

Untuk mengenalkan hasil karya dan kreativitasnya, mereka mempublish di media sosial (Medson) melaui akun Facebook dan Instagram. Dari sinilah banyak pengunjung yang penasaran dan menggunakan Lincak Anti Galau sebagi ajang selfie.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge