0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Orang yang Beragama Cenderung Tidak Berpikir Kritis?

Otak pria vs otak wanita. (Dok: Timlo.net/ Mirror.co.uk)

Timlo.net—Orang-orang yang relijius memilih beragama karena sisi emosional mereka. Sementara itu para ateis berpandangan negatif terhadap agama karena otak mereka yang analitis. Kesimpulan ini berasal dari sebuah penelitian yang diterbitkan dalam the Journal of Religion and Health.

Dalam penelitian itu, para peneliti melibatkan 209 orang Kristen, 152 orang tidak beragama, 9 orang Yahudi, 5 orang Budha, empat orang Hindu, satu orang Muslim dan 24 orang beragama lain. Mereka menjalani tes terkait dogmatisme, empati dan kepedulian moral dan sebuah tes tentang nalar atau logika. Para peneliti menemukan jika orang-orang yang beragama cenderung menunjukkan dogmatisme dan kepedulian empati tapi kurang berpikir kritis. Sementara mereka yang tidak beragama memiliki kemampuan berpikir yang kritis.

“Hal ini menunjukkan jika individu relijius mungkin percaya pada hal tertentu sekalipun berlawanan dengan logika karena hal itu beresonansi dengan sentimen moral mereka,” ujar Jared Friedman, salah satu peneliti dikutip dari Indy.com, Selasa (1/8).

Menurut penelitian dari Case Western Reserve University, Ohio, Amerika Serikat (AS), otak bekerja dalam dua jalur: empatis dan analis. Orang biasanya berpindah-pindah di antara dua jalur itu tergantung situasi yang mereka hadapi.

Peneliti menemukan pikiran orang beragama didominasi oleh sisi empati. Sementara pikiran para ateis didominasi sisi analis. “Resonansi emosional menolong orang-orang relijius merasa lebih yakin—semakin benar sisi moral yang mereka lihat dalam suatu hal, semakin hal itu memperkuat pemikiran mereka. Secara kebalikan, kepedulian moral membuat orang non relijius merasa tidak yakin,” ujar Anthony Jack, seorang profesor dan salah satu peneliti dalam studi itu.

Dikotomi ini juga ada dalam kepercayaan kuat seperti veganisme, perubahan cuaca atau pendapat politis. Para teroris, misalnya, percaya jika apa yang mereka lakukan sangat bermoral. Mereka percaya mereka menegakkan kebenaran dan melindungi sesuatu yang suci.

Dia menghubungkan jalur emosi dan empati itu dengan respon orang terhadap berita palsu dan peristiwa saat ini di dalam pemerintahan AS. “Dalam pembicaraan terkait berita palsu, pemerintahan Trump, berusaha menjangkau masyarakat secara emosional, menyakinkan para pendukungnya sembari mengabaikan fakta,” ujarnya.

Penelitian itu menemukan adanya kesamaan antara dua kubu ekstrim dalam kelompok beragama dan tidak beragama. Semakin dogmatis seseorang, semakin kurang kritis mereka dalam berpikir. Bahkan jika dogma yang mereka percaya adalah ateisme militan. Mereka juga cenderung tidak bisa memahami dan mengerti perspektif kelompok yang berbeda.

Editor : Ranu Ario

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge