0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Polisi Sita Belasan Ribu Pil Koplo

Ilustrasi (dok.merdeka.com)

Timlo.net – Polres Gunungkidul, DIY, menyita 14.090 butir obat penenang jenis trihexypenidyl. Seorang pelaku, AAS (24), ditangkap. Warga Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Bantul, ini menyimpan barang haram tersebut di dalam tanah teras rumahnya.

Kapolres Gunungkidul, AKBP Muhammad Arif Sugiyanto, menuturkan tertangkapnya AAS diduga bandar berawal dari operasi penyakit masyarakat (pekat) yang berhasil menangkap EK (20) warga Gombong, Ponjong, Gunungkidul. EK kala itu kedapatan membawa 40 butir pil trihexypenidyl pada 10 Juni 2017 lalu.

“Pil trihexypenidyl merupakan obat keras jenis penenang yang hanya diedarkan oleh apotik yang sudah berizin. Ek yang diperiksa petugas diketahui dia mendapatkan obat tersebut dari AAS,” ujar Arif, Jumat (16/6).

Arif menuturkan bahwa dari keterangan EK, AAS akhirnya berhasil diamankan di indekosnya berada di daerah Kasihan, Bantul. Saat dilakukan penggeledahan, kata Arif, hanya ditemukan 50 butir pil koplo dari tangan AAS.

“Namun dengan kejelian petugas, berhasil menemukan sekitar 14 ribu pil yang tersimpan di dalam tanah halaman samping rumah. Seluruh botol wadah dibungkus lakban dan disimpan dalam kotak plastik. Pelaku diduga pemain lama, hal itu terlihat cara menyimpan cukup rapi,” papar Arif.

Sementara itu, Kanit Resnarkoba Polres Gunungkidul Agus Supriyanta menjelaskan bahwa AAS menjual pil trihexypenidyl seharga Rp 20 ribu untuk 20 butir. AAS mengedarkan pil tersebut melalui pesan BBM.

“AAS menjual dengan sasaran anak muda sehingga harganya dibuat murah. Kami masih mendalami darimana pelaku mendapatkan puluhan ribu pil ini. Ini yang terbesar karena sebelumnya hanya 3.000 pil koplo,” urai Agus.

Agus menambahkan selain mengamankan puluhan ribu butir, polisi juga mengamankan dua buah ponsel, dua box plastic dan 14 botol.

“Atas perbuatannya itu, tersangka AAS dijerat Pasal 197 jo pasal 106 ayat 1 atau pasal 196 jo pasal 98 ayat 2 dan 3 Undang-Undang No.36/2009 tentnag Kesehatan. AAS disangkakan menjual obat-obat itu tanpa surat izin edar resmi. Dia kami ancam hukuman maksimal 15 tahun penjara dan denda maksimal Rp1,5 miliar,” jelas Agus.

[ang]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge