0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Malem Selikuran, Tumpeng Diarak dari Keraton ke Sriwedari

Ratusan Abdi Dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat melakukan ritual Malem Selikuran (dok.timlo.net/heru murdhani)

Solo — Ratusan Abdi Dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat melakukan ritual Malem Selikuran (Malam ke 21 Bulan Ramadan), Kamis (15/6) malam. Ritual dimulai dengan penyalaan ting (lampu minyak) di depan keraton. Tanpa mengenakan alas kaki, para abdi tersebut berjalan kaki dari Gondorasan (dapur) menuju Bangsal, dan kemudian dilanjutkan ke Masjid Agung, dengan membawa nasi tumpeng untuk didoakan dan kemudian dimakan bersama.

“Pada bagian paling depan adalah Prajurit Keraton, kemudian disusul dengan abdi dalem yang membawa lampu ting, kemudian abdi dalem yang membawa nasi tumpeng, dan kerabat Keraton. Sebelumnya kirab ini mengelilingi tembok Keraton dengan berjalan kaki searah jarum jam,” ungkap Pejabat Humas Keraton Kasunanan Solo, Bambang Ary Pradotonagoro

Berbeda dengan tahun sebelumnya yang hanya melakukan arak-arakan sampai ke Masjid Agung, tahun ini rombongan melakukan arak-arakan menuju Bon Rojo (Sriwedari). Rute ini adalah rute yang pernah digagas oleh Pakoe Boewono X (PB X) dengan melewati depan Masjid Agung, Jl Pakoe Boewono, dan Jl Slamet Riyadi.

Setiba di Pendapa Sriwedari, rombongan disambut ratusan orang. Selanjutnya nasi tumpeng yang berjumlah seribu buah tersebut didoakan. Usai berdoa, dilanjutkan dengan pembacaan sejarah Malam Selikuran yang sudah dimulai sejak jaman Wali Songo.

“Sejak jaman para Wali, perayaan ini selalu dilakukan dari tahun ke tahun, berlanjut dengan Kerajaan Demak, Mataram Pleret, Mataram Kartasura, dan Mataram Surakarta. Pada masa kekuasaan Raja Pakubuwono X kirab ini digelar hingga Bon Raja (Taman Sriwedari) dengan maksud untuk lebih mensyiarkan agama Islam, namun seiring perkembangan, tahun 2011 dikembalikan lagi di Masjid Agung,” katanya.

Berdasarkan pantauan  Timlo.net, tampak putri PB XII, GRAy Koes Murtiyah mendampingi Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pakubuwana untuk melepas Gunungan Sewu.

“Biarlah konflik yang terjadi kemarin menjadi catatan tersendiri dan tidak terjadi lagi ke depan. Yang jelas sesuai dengan pesan Sinuhun, semuanya ingin kebersamaan dan keraton bersatu lagi, dan yang paling penting kita menjaga apa yang sudah menjadi warisan leluhur untuk bisa lestari dan menjalani kehidupan sesuai dengan porsinya sendiri-sendiri,” ungkapnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge