0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ini Rehabilitasi Pecandu Narkoba ala Ponpes Metal Tobat

Ponpes Metal Tobat Cilacap (dok.merdeka.com)

Timlo.net — Alunan melodi lagu Tombo Ati terdengar lirih dari salah satu gubuk kayu di kompleks Pondok Pesantren (Ponpes) Metal Tobat Sunan Kalijaga, Dusun Bulusari, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap. Rudiarto, mantan pecandu dan anak reggae yang kini menjadi santri, nampak larut dalam permainannya menggesekkan busur biola sembari memetik senar biola sejajar pundaknya. Bergamis biru, berambut panjang digerai sebahu, sesekali ia memejamkan mata.

“Sudah lebih 6 tahun saya tinggal di pesantren ini. Saya mencari ketenangan sembari mendalami ilmu agama di bawah bimbingan abah,” kata Rudiarto yang kini memimpin grup musik Sholawat Metal (Sholmet) bimbingan Ponpes.

Sosok abah yang dimaksud Rudiarto, yakni Kiai Soleh Aly Mahbub (47), pengasuh Ponpes Metal Tobat. Sejak awal mula berdiri pada tahun 1999, Kiai Soleh memang melakukan pendampingan pada anak-anak muda yang hidup di jalanan.

Saat ditemui Merdeka.com beberapa kali di Ndalem Ponpes, Kiai Soleh bercerita awalnya ia melakukan pendampingan pada 17 anak muda yang berlatar belakang jalanan mulai dari pemabuk, preman sampai pecandu.

“Alhamdulillah 13 di antaranya kini sudah mendirikan pondok. Paling jauh di Lampung,” kata Kiai Soleh sembari menunggu berbuka pada Kamis (8/6) lalu.

Kiai Soleh bercerita, tak ada perlakuan khusus menempa sejumlah santrinya yang di masa silam punya ketergantungan pada minuman keras atau pun narkotika. Ia hanya meminta agar santrinya berkomitmen melakukan puasa daud (puasa dengan selang seling, sehari berpuasa dan seharian kemudian tak berpuasa) selama 3 tahun.

Selain itu, santri bebas untuk menjalani minat bakatnya untuk meningkatkan kualitas diri.

“Yang suka musik saya dorong untuk mengembangkan bakatnya. Yang suka otomotif saya tak pernah melarang. Yang terpenting apapun minat bakat mereka, hatinya santri,” jelasnya.

Di komplek Ponpes Metal Tobat sendiri yang seluas dua hektare lebih, kebebasan berekspresi para santri memang nampak. Para santri yang telah menempuh pendidikan lebih dari 5 tahun, tak lagi tinggal di asrama tapi mendirikan gubuk-gubuk kayu sederhana. Gubuk-gubuk ini mereka sebut sebagai tempat uzlah (ketenangan menyendiri) yang mereka gunakan untuk mendalami kitab, berdiskusi tentang agama atau berlatih musik sebagaimana 18 anggota grup sholawat metal.

Kepala Ponpes Metal Tobat, Priyo Nurdiyanto mengatakan gubuk-gubuk itulah yang menjadi tempat persemaian kreatif para santri. Santri yang memang meniatkan diri untuk menempuh jalan dakwah di kemudian hari, menghabiskan waktunya untuk mendalami berbagai ilmu agama di gubuk-gubuk kayu itu.

Sebaliknya bagi mereka yang punya kesenangan lain, gubuk menjadi medan kreatif untuk berkarya yang kebanyakn seni mulai dari musik atau rupa.

“Sebagai santri kewajiban tetap sama, di sini mereka mendalami Al-Qur’an, tafsir dan mempelajari berbagai kitab kuning,” ujar Priyo. [msh]

Sumber: merdeka.com

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge