0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Bedhaya Ketawang Hanya Dibawakan 30 Menit

Bedhaya Ketawang disajikan di depan Sinuhun Hangabehi (dok.timlo.net/indira jayendra iswari)
Solo — Salah satu tari yang disakralkan dalam Tingalan Dalem Jumenengan Paku Buwono XIII, Bedhaya Ketawang kembali disajikan di depan Sinuhun Hangabehi, Sabtu (22/4) siang. Namun, tahun ini, tarian yang disajikan khusus setahun sekali di Sasana Sewaka Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat itu hanya berdurasi 30 menit dari durasi sesuai pakemnya.

“Seharusnya kan ditarikan selama 2 jam penuh. Tapi tahun ini, setelah empat tahun tidak dijumenengke (ditampilkan) di depan Raja. Ditarikan tidak full, karena melihat kondisi PB XIII yang kurang sehat,” beber anggota staf bidang eksternal Satgas Panca Narendra atau Tim Lima, KP Bambang Pradotonagoro di sela-sela acara.

Sebelum kesembilan penari Bedhaya Ketawang mulai menari, para putra sentana dalem dan rayi dalem memasuki memasuki Sasana Sewaka. Dilanjutkan laporan Lurah Bedhaya, RT Sri Mulyani. Kemudian penari-penari putri dengan busana dan riasan temanten putri Keraton Solo mulai menari di hadapan raja dan para sentana dalem sekitar pukul 11.09 WIB. Diakhiri sekitar pukul 11.35 WIB.

“Kesembilan penari ini 90 persen adalah penari baru dari luar keraton. Kami ambil dari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo dan SMKN 8 Solo,” kata dia.

Sementara itu, disinggung terkait kesakralan dan pakem Bedhaya Ketawang yang tahun ini dibawakan melenceng dari aturan adat. Pihaknya mengatakan, apapun yang terjadi tarian tersebut wajib dijumenengke. Terlebih lagi, sejak konflik tahun 2012 lalu, baru kali ini Tingalan Dalem Jumenengan PBXIII digelar secara lengkap.

“Yang penting ada Bedhaya Ketawang dan dihadiri oleh Raja. Kalau Bedhaya thok tanpa Sinuhun ya tidak lengkap,” kata dia tanpa kepastian.

Menurut Benowo, masalah Tari Bedhaya yang tidak sesuai pakem tidak perlu dibesar-besarkan. Ia berpendapat bahwa inti Tingalan Jumenengan adalah kehadiran raja di hadapan abdi dalem, keluarga keraton, dan tamu-tamu kehormatan.

Sekadar informasi, latihan Bedhaya Ketawang sempat terhenti Sabtu (15/4) lalu karena keributan di Keraton Surakarta. Abdi Dalem yang hendak berlatih Bedhaya dilarang memasuki kawasan Keraton oleh polisi. Padahal para abdi dalem baru berlatih sejak Rabu (12/4). Alhasil, mereka baru dapat tiga hari latihan.

Akibat peristiwa itu, sebagian penari menolak tampil. Tim Lima terpaksa mencari penari pengganti dari Institut Seni Indonesia dan SMK 8 Surakarta. Penari pengganti pun baru mulai berlatih Kamis (20/4) lalu.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge