0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kakek Ini Habiskan 36 Tahun Untuk Gali Saluran Air Untuk Desanya yang Kekeringan

Huang Dafa. (Dok: Timlo.net/ Nextshark. )

Timlo.net—Seorang petani asal Cina menghabiskan waktu 36 tahun menggali saluran air. Penggalian ini menembus tiga pengunungan dan 10 bukit menggunakan peralatan tangan dan bahan peledak. Dia melakukannya supaya dia bisa mengalirkan air untuk desanya yang terpencil.

Petani bernama Huang Dafa ini membangun saluran irigasi sejauh 9,6 km di Provinsi Guizhou dari tahun 1958 hingga 1994. Para penduduk desa yang terinspirasi dengan visinya juga menolong dia menyelesaikan saluran ini. Para penduduk desa menamai saluran irigasi ini dengan nama Dafa Channel untuk menghormati kerja keras Huang untuk penduduk desa.

Kerja kerasnya baru diketahui masyarakat umum minggu ini. Sebelum saluran irigasi ini ada, memperoleh air bagi Desa Caowangba merupakan masalah serius. Penduduk desa Caowangba berjumlah 1200 orang. Terletak di pengunungan di Provinsi Guizhou dengan ketinggian 1.249 m, desa itu tidak memiliki sumber air. Para penduduk harus berjalan selama dua jam ke desa tetangga Yebiao. Di sana mereka harus mengantri sepanjang hari untuk memperoleh air. Mereka juga menampung air hujan menggunakan sumur. Kadang-kadang mereka mengumpulkan air yang menggenang di jurang-jurang yang curam.

Sekarang berkat Huang Dafa dan 200 penduduk desa yang menolongnya, air mengalir hingga ke pintu para penduduk desa. Menurut Nextshark, proyek ambisius Huang Dafa ini dimulai saat dia terpilih sebagai kepala desa pada 1958. Sebagai pria yang suka bertindak, dia memutuskan untuk melakukan sesuatu untuk desanya.

Dengan pengetahuan sedikit tentang membangun irigasi, Huang mulai menggali. Dia beranggapan jika dia mengambil sekop dan mulai menggali yang lain akan terinspirasi dan ikut terlibat. Dia dan para relawan menggunakan peralatan tangan dan bahan peledak untuk menciptakan saluran air seluas 38 cm dan setinggi 50,8 cm.

(Nextshark).

Setelah menggali saluran sepanjang 100,5 m melewati sebuah puncak gunung, Huang dan para relawan kecewa karena tidak ada air mengalir. Proyek itu tidak berjalan seperti harapan karena kurangnya pengetahuan mereka tentang irigasi. Tapi walaupun saluran ini tidak digunakan sebagai irigasi, akhirnya saluran ini menjadi jalan pintas bagi penduduk saat bepergian. Masih berambisi mewujudkan mimpinya walaupun gagal, Huang belajar sistem irigasi di the Fengxiang Water Conservation Bureau di Zunyi pada usia 54 tahun pada 1989.

Tahun berikutnya, saat Caowangba mengalami kekeringan yang parah, Huang mulai lagi menggali saluran air. Dilengkapi dengan pengetahuan yang benar kali ini, dia lebih percaya diri dari sebelumnya jika mimpinya akan terwujud.

Untuk memulai proyek baru ini, dia membujuk pemerintah daerah mendanai proyeknya dengan uang senilai Rp 115,8 juta dan 190 ribu kg jagung. Para penduduk desa sekalipun miskin, menyumbang uang Rp 25 juta. Mereka bisa memulai proyek mereka lagi pada 1992.

Huang, sekarang 81 tahun, ingat jika dia sering tidur di gua-gua, bermimpi menyelesaikan proyeknya. Sayangnya, Huang harus mengalami dua tragedi saat menyelesaikan mimpinya. Saat dia bekerja keras, menggali saluran ini, puteri dan cucu laki-lakinya meninggal.

Sekarang, dengan air yang cukup, penduduk bisa menanam padi. Desa itu juga akhirnya memiliki aliran listrik di tahun yang sama. “Kita tidak seharusnya menunggu sesuatu terjadi. Belasan tahun hidup saya bisa saja berlalu tanpa sesuatu terjadi,” kata Huang.

Editor : Ranu Ario

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge