0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Bedhaya Ketawang Tahun Ini Tidak Sesuai Pakem

Tarian Bedhaya Ketawang, sebagai simbol Jumenengan PB XIII (dok.timlo.net/ dhefi)

Solo — Meski dipastikan bakal ditampilkan saat Tingalan Jumenengan Dalem Pakubuwana XIII, Sabtu (22/4), Tari Bedhaya Ketawang kali ini akan mengalami perubahan yang cukup kentara. Tim Lima beralasan kondisi saat ini tidak memungkinkan untuk melaksanakan tarian sakral Kerajaan Mataram itu sesuai pakemnya.

“Ini kan kondisi darurat. Yang namanya darurat ya boleh-boleh saja,” kata Ketua Satgas Panca Narendra alias Tim Lima, KGPH Benowo, Jumat (21/4).

Benowo mengakui pelaksanaan Bedhaya Ketawang idealnya memang sesuai aturan. Penari harus berlatih tujuh hari di Sasana Sewaka lengkap dengan pengrawit (pemain gamelan) dan personel pendukung lainnya. Semua personel terutama penari dan pengrawit harus mengenakan pakaian yang akan dipakai saat tampil.

Namun seperti diketahui, latihan Bedhaya Ketawang sempat terhenti Sabtu (15/4) lalu karena keributan di Keraton Surakarta. Abdi Dalem yang hendak berlatih Bedhaya dilarang memasuki kawasan Keraton oleh polisi. Padahal para abdi dalem baru berlatih sejak Rabu (12/4). Alhasil, mereka baru dapat tiga hari latihan.

Akibat peristiwa itu, sebagian penari menolak tampil. Tim Lima terpaksa mencari penari pengganti dari Institut Seni Indonesia dan SMK 8 Surakarta. Penari pengganti pun baru mulai berlatih Kamis (20/4) lalu.

“Jangankan cuma latihan dua atau tiga kali. Latihan satu malam saja boleh karena kondisi darurat,” kata Benowo.

Durasi tarian pun disinyalir bakal berubah dari tari yang asli. Bedhaya yang akan ditampilkan diperkirakan lebih singkat karena waktu latihan yang kurang memadai. Apalagi Bedhaya  Ketawang adalah tarian sakral yang selama ini hanya boleh ditarikan orang-orang tertentu.

“Durasinya nanti tergantung. Yang penting ada Bedhaya Ketawang dan dihadiri oleh Raja. Kalau Bedhaya toktanpa Sinuhun ya tidak lengkap,” kata dia tanpa kepastian.

Menurut Benowo, masalah Tari Bedhaya yang tidak sesuai pakem tidak perlu dibesar-besarkan. Ia berpendapat bahwa inti Tingalan Jumenengan adalah kehadiran raja di hadapan abdi dalem, keluarga keraton, dan tamu-tamu kehormatan.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge