0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pati Sagu Hantar Wahjuningsih Raih Doktor di UNS

Sri Budi Wahjuningsih taih gelar doktor di UNS (dok.timlonet/tyo eka)

Solo — Beras analog berbasis pati sagu dan tepung kacang merah dengan proporsi tepung kacang merah sampai 10% mempunyai Indeks Glikemik (IG) rendah dan bersifat hipoglikemik. Sehingga dapat dikembangkan sebagai pangan alternative pengganti beras dan sebagai pangan fungsional, khususnya bagi penderita diabetes.

Demikian kesimpulan yang dikemukakan Sri Budi Wahjuningsih, dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Semarang  saat mempertahankan disertasinya di depan Dewan Penguji yang dipimpin Prof Drs Sutarno MSc PhD, di ruang Sidang Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta. Sri Budi Wahjuningsih berhasil meraih gelar doktor di UNS.

Wahjuningsih menyatakan, pati sagu mempunyai kadar amilosa dan pati resisten tinggi, sedangkan tepung kacang merah mempunyai kadar protein, amilosa dan serta pangan tinggi. “Hasil uji profil gelatinisasi memndapatkan semua formula tepung komposit berbasis pati sagu dan tepung kacang merah dapat membentuk beras analog dengan karakteristik fisik seperti beras,” jelasnya.

Menurutnya, beras analog berbasis pati sagu dan tepung kacang merah 10% mempunyai sifat kimia mendekati beras padi, dengan kadar protein sebesar 5,98%.

“Semakin banyak proporsi tepung kacang merah pada beras analog menunjukkan waktu memasak semakin rendah, kehilangan air, daya serap air dan laju kehilangan air yang semakin meningkat,” jelasnya.

Disebutkan, beras analog pati sagu dengan proporsi tepung kacang merah sampai 10% masih disukai konsumen dan menghasilkan nasi analog dengan nilai organoleptik rasa, aroma dan tekstur mendekati nasi. “Semakin kecil proporsi tepung kacang merah pada beras analog, bentuk granula patinya semakin kokoh,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, Wahjuningsih menyarankan, perlu dilakukan analisis kriteria investasi untuk pengembangan beras analog kedepan sebagai pangan fungsional dan sumber pangan karbohidrat alternative selain beras, serta untuk memberikan gambaran keuntungan ekonomi pada usaha produksi beras analog.

“Selain itu, untuk menjaga kontinuitas produksi sagu diperlukan penataan lahan sagu yang sudah ada dan budidaya tanaman sagu serta meningkatkan kualitas pati sagu yang dihasilkan,” ungkapnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge