0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Tim Lima : Tingalan Jumenengan Tanpa Raja Seperti Upacara Tanpa Inspektur

Tim Lima menggelar jumpa pers di Sasana Narendra, Minggu (9/4). Jumpa Pers dihadiri KPAA Begug Purnamasidi, KGPH Benawa, dan KGPHPA Tedjowulan (timlo.net/ichsan rosyid)

Solo – Tim Lima menganggap aneh rencana Lembaga Dewan Adat yang akan mengadakan tari Bedhaya Ketawang tanpa Sinuhun Pakubuwana XIII duduk di tahtanya. Pasalnya, tari tersebut bukan inti acara Tingalan Jumenengan atau upacara peringatan kenaikan tahta raja.

“Intinya kan Sinuhun duduk di Dampar Kencana (singgasana), baru Bedhaya Ketawang ditarikan,” kata Ketua Satgas Tim Lima, KGPH Benowo saat jumpa pers di Sasana Putra, Minggu (9/4).

Benawa memisalkan tari Bedhaya Ketawang seperti lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan saat upacara. Lagu kebangsaan tersebut baru dinyanyikan setelah inspektur upacara memasuki lapangan. Tingalan Jumenengan tanpa kehadiran raja dianggap seperti upacara bendera tanpa inspektur upacara.

“Kan tidak mungkin upacara tanpa inspektur. Masak cuma nyanyi Indonesa Raya tapi nggak ada inspekturnya,” kata dia.

Untuk diketahui, empat tahun terakhir Tingalan Jumenengan di Keraton Surakarta hanya menampilkan Tari Bedhaya Ketawang di Sasana Sewaka tanpa kehadiran Pakubuwana XIII. Lembaga Dewan Adat menyebut upacara tersebut “Tingalan Adeging Bedhaya Ketawang”. Di lain pihak, Pakubuwana XIII hanya mengadakan acara kecil-kecilan di Sasana Putra tanpa tari Bedhaya Ketawang. Tahun ini, Pakubuwana XIII ingin mengadakan Tingalan Jumenengan di Sasana Sewaka sebagaimana mestinya.

“Kita tidak mengadakan Tingalan Jumenengan tapi Tingalan Adeging Bedhaya Ketawang. Kalau Sinuhun mau mengadakan sendiri di kediamannya ya silahkan,” kata Ketua Eksekutif Lembaga Hukum Keraton Surakarta, KP Eddy Wirabhumi.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge