0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Awas, Kartel Narkoba Kolumbia Sudah Masuk Indonesia

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Budi Waseso (dok.merdeka.com)

Timlo.net — Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Budi Waseso mengungkapkan jaringan kartel narkotika jaringan Kolombia sudah masuk ke Indonesia. Masuknya jaringan narkoba kartel Kolombia ini terkuak setelah BNN berhasil mengungkap kasus penyelundupan kokain di Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Di Indonesia ada 72 jaringan narkotika internasional, kemarin NTB sudah masuk jenis kokain dari Kolombia. Sekarang Kolombia sudah betul. Prediksi saya, saat itu saya ke Kolombia 5 kartel di Kolombia sudah hancur total,” kata Budi Waseso dalam acara Sinergitas Penanganan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap (P4G) narkotika di Gedung Prahurit Makodam IV Diponegoro/ Jateng di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Semarang, kemarin.

Dia menceritakan, masuknya kartel kokain jaringan Kolombia terjadi setelah lima kartel di sana dihabisi tentara Marinir Amerika. Pemerintah Kolombia meminta bantuan Amerika untuk menumpas kartel narkotika yang sudah menewaskan sekira 500 anggota polisi setempat.

“Diporak-porandakan karena ditangani oleh Amerika. Dibantu oleh 3.000 tentara Marinir dengan lengkap persenjataanya untuk melawan kartel di Kolombia porak-poranda. Karena apa? Amerika ikut campur, tentara dan Kepolisian Kolombia sudah angkat tangan, hands up untuk menghadapi kartel,” bebernya.

Bahkan untuk meluluhlantakan kartel narkotika jaringan Kolombia, pasukan Amerika menggunakan helikopter Black Hawk. Usai kehancuran kartel jaringan itu pecah dan sebagian bekerja di Indonesia.

“Malah di kala polisi akan menyerbu kartel, begitu menyerbu kartel itu 500 polisi Kolombia meninggal dunia. Kalah sama kekuatan kartel narkoba sehingga Kolombia minta batuan Amerika, sehingga dibantu dilawannya pakai pesawat tempur dengan heli Black Hawk dihancurkan semua. Hari ini bersih. Dan prediksi saya akan bekerja di Indonesia. Kemarin kokain di NTB,” katanya.

Budi Waseso mengkhawatirkan, dengan masuknya kartel jaringan narkoba Kolombia, peredaran jenis-jenis narkoba baru bisa tidak dapat terlacak. Pasalnya saat ini ada indikasi kuat sebanyak 60 jenis narkoba baru masuk ke Indonesia. Puluhan jenis narkoba baru itu tidak semuanya terdeteksi dan dapat terlacak BNN.

“Dilaporkan di dunia perkembangan ada 60 jenis baru masuk ke Indonesia. Baru 43 masuk konstruksi hukum UU No 35 atau UU Kesehatan. 17 belum bisa karena belum bisa diatur karena ketidakmampuan kita untuk mendeteksi dari narkotika baru itu,” bebernya.

Dia mengaku tidak adanya laboratorium bertaraf internasional yang mengakibatkan puluhan jenis narkotika baru tidak bisa terlacak.

“Kenapa? Karena kita tidak punya laboratorium khusus narkotika. Badan POM belum punya, BNN belum punya, di UI juga belum punya, di Kepolisian juga belum punya. Sehingga ini perlu salah satunya ke depan, Indonesia harus memiliki pusat laboratorium narkotika nasional yang bertaraf internasional tentunya,” bebernya.

Dia menambahkan bahwa Indonesia merupakan pangsa pasar yang bagus untuk narkoba. “Kalau tidak, kita tidak mampu mendeteksi 800 jenis baru akan masuk pasti akan masuk ke negara kita. Karena negara kita jadi pangsa pasar baik. Semua narkotika hasil penelusuran BNN diimpor dari 11 negara dari berbagai macam jenis narkotika. Tidak ada yang diekspor. Semua habis. Habis terserap dan terjual di Indonesia. Luar biasa,” pungkasnya.

Jaringan narkoba di Indonesia kini juga semakin kuat. Mereka dilengkapi dengan senjata pabrikan dari pasar gelap di perbatasan. Kondisi ini tentu berbeda jauh dari sebelumnya yang hanya menggunakan senjata rakitan.

“Awalnya begitu kita lakukan tindakan tegas, mereka masih menggunakan dengan keterbatasan awal saya (memprediksi) mereka menggunakan rakitan. Hari ini mereka sudah gunakan senjata pabrikan,” tuturnya.

Berdasarkan hasil penyelidikan terbaru, BNN menemukan fakta para pemain narkoba memakai senjata api jenis revolver sampai otomatis M16 dan AK 47.

“Terakhir kemarin kita temukan ada M16, AK47, revolver, pistol. Pabrikan semua dan tidak ada produksi dalam negeri. Pabrik dari luar (negeri),” ungkapnya.

BNN berhasil menangkap salah satu pemasok dan kini masih dalam proses pengembangan penyelidikan di Mabes Polri.

“Saya sampaikan kepada Pak Kapolri, kepada KaBIN, Kepada Panglima TNI. Setelah ditelusuri benar. Ada sindikat itu dan tertangkap. Baru satu tapi sedang kami kembangkan,” ujarnya.

Dia menambahkan, mereka sudah beberapa kali memasok senjata. Selain ke bandar dan jaringan narkoba, juga memasok ke para teroris.

“Nah ini ancaman,” pungkasnya. [cob]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge