0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Bu Bidan PTT Nelangsa

Para bidan PTT Karanganyar ngudo roso (MG001)

Karanganyar — Aturan pengangkatan aparatur sipil negara (ASN) berusia maksimal 35 tahun membuat gundah bidan senior berstatus pegawai tidak tetap (PTT). Kesempatan mereka memperoleh perbaikan kesejahteraan pupus.

“Apakah pengabdian selama bertahun-tahun tidak diperhitungkan. Ini sungguh diskriminatif karena pengangkatan bidan PTT menjadi ASN hanya untuk mereka yang berusia 35 tahun ke bawah,” kata Ketua Forum Bidan Desa (Forbides) Karanganyar, Tri Mintati kepada Timlo.net, Selasa (4/4).

Menurutnya, pemerintah pusat tidak boleh memasukkan aturan itu dalam penataan ASN. Para bidan PTT senior justru memiliki kualitas lebih baik karena pengalamannya melayani pasien. Pada kesempatan lalu, sebanyak 146 bidan PTT asal Karanganyar menjalani ujian seleksi ASN sistem computer assisted test (ACT) di Semarang. Namun hanya 117 diantaranya yang lolos. Dan yang paling menyakitkan, para peserta lolos ujian berusia tak lebih dari 35 tahun.

“Padahan nilai yang keluar tidak lebih baik dari kami bidan berusia 35 tahun lebih. Hal itu yang membuat kami yakin bahwa aturan pengangkatan ASN terkait batasan usia maksimal sudah diberlakukan,” katanya.

Persoalan itu sudah diadukannya ke bupati. Namun bukan solusi yang didapatkannya, malah kekecewaan.

“Bupati Juliyatmono bilang ia tak bisa berbuat banyak. Terbentur aturan pusat,” jelasnya.

Dengan tereliminasi dari seleksi pengangkatan ASN, para bidan PTT terpaksa gigit jari menerima kesenjangan itu, dimana kesejahteraannya timpang dengan bidan ASN. Untuk tetap bisa bekerja, bidan PTT harus terus memperpanjang kontrak tiap tiga tahun dengan pelaporan kinerja tahunan. Itu pun tidak menjamin jaminan masa pensiun.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge