0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Dihapus di PON, Panahan Jemparingan Mataraman Minim Kaderisasi

Disbudpora Klaten memperkenalkan panahan di sela kegiatan Festival Candi Kembar di Candi Plaosan (timlo.net/aditya wijaya)

Klaten — Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Klaten kesulitan menjaring bibit-bibit muda panahan tradisional alias jemparingan gaya Mataraman. Minimnya kompetisi disinyalir sebagai penyebab mandegnya regenerasi.

“Enggak ada regenerasinya. Hampir punah karena enggak ada even. Terakhir 2013 di Peparnas di DIY,” kata staf Bidang Olahraga Disbudparpora Klaten, Hariyati, saat ditemui di sela-sela Festival Candi Kembar di Candi Plaosan beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan, cabang olahraga (cabor) dengan ciri khas memanah mengenakan pakaian tradisional khas Jawa ini sulit eksis lantaran kebijakan pemerintah. Pasalnya, cabor panahan tradisional dihapus dari Pekan Olahraga Nasional (PON) sejak tahun 2012. Dampaknya, atlet Jemparingan didominasi wajah-wajah lama.

“Karena sudah dua periode enggak masuk PON. Dan saya saat ini (usia) 52 tahun. Di Klaten ada tiga orang (atlet Jemparingan putri), yang putra sembilan, sudah manula semua,” kata Hariyati, yang menggeluti panahan sejak 1985.

Meski demikian, pihaknya enggan berpangku tangan. Selain mendirikan klub panahan Cundo Manik Klaten, ia mendatangi SMA/SMK untuk memperkenalkan panahan dengan gaya pemanah tidak berdiri, namun duduk bersila atau kedua kaki dilipat tersebut.

“Jadi sekarang mau menghidupkan lagi. Saya mengirim demo ke sekolah, dikumpulin siswanya untuk mencobanya. Panahan itu kayak begini. Minimal mengenalkan anak untuk menyukai dulu. Harapannya ada satu dua anak yang berminat.” ujar Haryati yang baru setahun pulang ke Klaten setelah berdinas sebagai PNS di Jawa Barat.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge