0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Saeman Sang Penjagal Vespa

Bengkel Saeman (foto: Edy J Soe)

Timlo.net – Jangan membandingkan Saeman dengan penjagal manusia dari Norwegia, Anders Behring Breivik. Saeman bukanlah pembunuh berdarah dingin. Meski sama-sama dijuluki sebagai “penjagal”, Saiman bukanlah pembunuh berantai seperti The Yorkshire Ripper atawa Si Penjagal dari Yorkshire, Peter Sutcliffe dari Ingris.

Saiman dikenal dikalangan pengendara motor skuter sebagai sang penjagal vespa. Puluhan bahkan ratusan skuter telah diamputasi dan dikanibal di bengkel tempat kerjanya di samping Kolam Renang Tirtomoyo, Solo sejak tahun 1960-an.

Kedatangan Vespa di Solo, menurut ingatannya, nyaris berbarengan dengan sepeda motor Harley Davidson (HD), sekitar tahun 1950-an. Waktu itu, tutur Saiman, tidak banyak kendaraan berlalu lalang di Solo. Sepeda motor bisa dihitung dengan jari.

“Kebanyakan yang sering berseliweran di Jalanan Solo, kalau tidak HD, Puch, BMW dan Vespa. Kalau Vespa yang memakai selain tentara Belanda, paling pastur Gereja Purbayan,” ujarnya Kepada TimloMagz.

Pekerjaan membelah mesin dan menganibal –menganti onderdil lama dgn baru dari jenis lain (red) – sekaligus mengecet bodi bukan persoalan gampang. Untuk merampungkan, Vespa mangkrak, butuh waktu sedikitnya dua minggu.

Selain harus mencari onderdil dari jenis yang sama, menurut Saiman, kesulitan lain yaitu ngoprek agar suara mesin halus sesuai aslinya.

“Suara itu penting. Tapi memang kalau bukan orang yang berkecimpung di bidang skuter tidak akan tahu,” ujar dia.

Saat ini, ujar dia menambahkan, jenis langka dan mahal adalah Vespa Super Sprint (SS) 90. Setahu dia, jenis SS 90 di Indonesia jumlahnya tidak sampai 15-20 unit. Jangan tanya harganya kalau sudah menjadi barang langka. Satu unit SS90 harganya bisa buat beli mobil.

“Kisaran, kalau tidak salah, bisa sampai 60-70 jutaan rupiah. Itu diproduksi sejak 1971, di Indonesia, dirakit di belakang Pulogadung. Waktu itu saya sempat magang kerja di pabrik Vespa,“ ujarnya mengingat-ingat.

Selain jenis SS 90, ujar Saiman, motor keluaran pabrik di Itali lain juga tergolong langka. Jenis Lambretta misalnya, di Solo bisa dihitung dengan jari. Tidak lebih dari 5-10 unit. Itu pun, katanya belum tentu masih bisa jalan dengan. Permintaan untuk mencarikan jenis Lambretta, menurutnya, sering ia dengar.

“Waktu itu ada orang dari Jakarta mencari Lambretta dengan harga berapapun. Saya katakan, di Solo, Cuma ada sekitar 5 biji. Itu pun ndak tahu siapa yang masih memiliki jenis skuter itu. Saya pernah punya tapi sudah terjual,” ujar dia.

Meski memiliki lebih dari 17 jenis skuter, katanya, ia tidak memiliki barang Vespa jenis antik keluaran sebelum 1960. Padahal, ujar dia, banyak orang mencari skuter keluaran dari pabrik tahun itu. Ditanya soal harga, skuter siap pakai, Saiman menyatakan tidak lebih dari speda motor Jepang.

“Tergantung jenis dan keluaran dari pabrik. Ada yang harganya Rp3 jutaan. Tapi ada juga yang diatas Rp 6 juta. Tergantung mulus dan tidak mesin, dan catnya. Saya ngecat aja bisa sampai 1-2 jutaan. Belum benerin jerohannya. Kalau makan saoto nyarinya mudah, lha ini skuter. Minta ampun sulitnya,” ujar Saiman.

Tak hanya satu Vespa yang ngadat setiap hari ditangani Saiman, tetapi lebih dari 3-5 kendaraan lawas keluaran Itali itu. Itulah sebabnya Saiman mempekerjakan tiga orang tenaga ahli bongkar-pasang onderdil Vespa. Menurut dia, tidak banyak bengkel kendaraan biasa –maksudnya produk Jepang– mampu memperbaiki jenis kendaraan ini.

“Coba saja cari bengkel kendaraan motor yang bisa mereparasi motor Vespa. Di Solo hanya ada beberapa bengkel, tidak sampai 10 bengkel. Berbeda dengan bengkel motor Jepang. Setiap pojok ada yang buka bengkel,” ujar dia.

“Sekarang kalau saya sakit, anak saya yang akan nerusin nanti. Makanya dari sekarang dia juga terjun mbengkel di sini.”

Ditemui di bengkel Saiman, salah seorang pelanggan Endro Nugroho, membenarkan sulitnya mencari bengkel yang paham membetulkan kerusakan Vespa miliknya. Apalagi ujarnya, di Solo juga tidak banyak bengkel penyedia onderdil Vespa lawas.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge