0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Internal PDIP Ingin Ahok Bertukar Posisi dengan Djarot?

Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) (merdeka.com)

Timlo.net – Kalangan internal di tubuh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menggagas pertukaran posisi Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dengan Djarot Saiful Hidayat. PDIP bisa menerima jika Ahok bertukar posisi dengan Djarot selaku Wakil Gubernur dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.

“PDIP akan dapat menerima jika Ahok dan Djarot bertukar posisi dalam Pilgub DKI Jakarta 2017. Harusnya memang bertukar posisi sebab Pak Djarot kader ideologis intelektual PDIP, sedangkan Pak Ahok bukan kader tulen,” ujar Pengamat politik dari lembaga kajian Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago, Kamis (25/8).

Pangi menilai, PDIP akan lebih mudah menerima jika Djarot maju sebagai calon gubernur. Sementara Ahok maju sebagai cawagub mendampingi Djarot, karena tidak terlalu berisiko ditinggalkan.

“Kalau PDIP mengusung Pak Ahok sebagai cagub, artinya membesarkan gelembung elektabilitas dan popularitas orang non-kader, yang bisa berpotensi menyalip di tikungan,” ujar dia.

Pangi mengatakan, PDIP adalah partai doktrin, bukan tipologi parpol kepentingan atau pragmatis. PDIP dinilai memiliki pakem tersendiri dalam mengusung seorang calon kepala daerah.

Dia memandang PDIP sangat memperhatikan betul loyalitas kepala daerah yang diusungnya, sedangkan Ahok beberapa kali tercatat pernah meninggalkan parpol yang mengusungnya baik kala yang bersangkutan menjadi Bupati Belitung Timur maupun saat menjabat Gubernur DKI Jakarta.

Sebelumnya, politikus PDI Perjuangan Arteria Dahlan mengatakan, partainya akan bisa menerima jika Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bertukar posisi dengan kader PDI Perjuangan Djarot Saiful Hidayat dalam kontestasi Pilkada DKI Jakarta 2017.

“Saya mendengar ada desakan dari internal PDIP yang menginginkan Pak Djarot menjadi calon Gubernur dengan Pak Ahok sebagai calon wakil Gubernur. Bagi DPP partai tentunya opsi ini lebih mudah diterima dan mudah pula menjelaskannya ke struktur partai hingga ke akar rumput,” ujar Arteria.

Saat ini Ahok merupakan Gubernur DKI Jakarta sementara Djarot merupakan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Ahok berencana maju kembali dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 menjadi petahana dan meminta Djarot kembali mendampinginya sebagai wakil gubernur.

Menurut Arteria, opsi Djarot maju sebagai calon Gubernur dengan Ahok sebagai wakilnya lebih logis dan bisa diterima. Alasannya, pertama PDI Perjuangan selaku partai pemenang pemilu juga memenuhi persyaratan untuk bisa mengusung calon sendiri di Pilkada DKI Jakarta tanpa harus berkoalisi.

Kedua, dari sisi perolehan kursi dan jumlah dukungan saat ini posisi Ahok yang didukung koalisi tiga partai baru mengumpulkan 23 kursi DPRD, masih jauh dibandingkan perolehan kursi PDI Perjuangan yang memiliki 28 kursi DPRD.

Ketiga, baik Ahok maupun Djarot belum sekalipun teruji bahwa mereka benar-benar pilihan rakyat. Ahok adalah gubernur yang menggantikan Jokowi, sehingga tidak ada perbedaan dengan Djarot.

Keempat, secara politis Djarot dinilai mempunyai keunggulan politis dengan jabatannya selaku Ketua DPP PDI Perjuangan, dan berpengalaman menjadi Pelaksana tugas Ketua DPD PDI Perjuangan wilayah DKI Jakarta sehingga memahami karakter dan kearifan lokal ibukota dengan basis massa yang jelas.

Kelima, Djarot dipandang memiliki keunggulan dari sisi komunikasi politik, yang mampu menjembatani kepentingan pemerintahan daerah.

[rnd]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge