0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Tekan Kerugian, Petani Tembakau Nekat Panen

Petani terpaksa panen tembakau sendiri (timlo.net/nanin)

Boyolali — Memasuki musim panen, petani tembakau di Kawasan Lereng Merapi-Merbabu mulai cemas. Pasalnya, hingga saat ini belum ada penebas yang datang untuk membeli tembakau mereka. Mereka nekat memanen sendiri, sebab jika tak kunjung dipanen, tembakau akan mengering.

“Kalau mengering nanti malah jadi tembakau rosok, semakin rugi kita,” kata Lardi (45) warga Desa Suroteleng, Selo, Selasa (16/8).

Semula dirinya sengaja hendak menjual tanaman tembakau langsung dari ladang kepada penebas. Namun hingga memasuki masa panen, belum ada penebas yang menawar tanaman tembakaunya.

“Musim tembakau tahun ini hancur-hancuran, banyak yang mati tanaman,” tambahnya.

Sementara itu, selain kesulitan mendapatkan pembeli, petani juga kesulitan mengeringkan daun tembakau yang telah dirajang. Pasalnya hujan masih turun. Sedangkan sinar matahari hanya sebentar memancarkan sinarnya. Untuk mengeringkan tembakau, terpaksa petani harus turun ke bawah mencari lokasi dengan sinar matahari cukup.

“Kalau sehari tidak kering, kwalitas tembakau bakal hancur, harga akan langsung anjlok,” ujar Rahmat, petani lain.

Sedangkan untuk harga, tembakau kering kualitas bagus bisa laku Rp 55.000 per kilogram. Kalau sehari tidak kering, kualitas tembakau rusak dan hanya laku Rp 15.000 per kilogram. Bila sudah menjadi tembakau rosok, harga semakin turun, hanya laku Rp 4.000 per kilogram.

“Dipanen susah, tidak dipanen rugi besar, tahun ini petani tembakau benar-benar sial,” tandasnya.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge