0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Teknologi Satelit LAPAN Bisa Lacak Ikan di Laut hingga Ladang Ganja

(Miniatir satelit buatan LAPAN | Ari Kristyono)

Solo – Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) terus berusaha menguasai teknologi luar angkasa. Sudah ada tiga satelit eksperimen produksi anak bangsa yang diorbitkan, dan akan menyusul dua lagi. Ke depan peluncuran satelit akan dilakukan dengan roket buatan sendiri, dari bandar antariksa di dalam negeri.

“Sekarang kita sudah punya tiga satelit buatan sendiri yang bisa mengawasi wilayah Asean. Bisa dimanfaatkan untuk mengawasi lautan kita dari illegal fishing, bahkan kalau ada ladang ganja tersembunyi pun bisa kita temukan tempatnya,” papar Kepala LAPAN Prof Dr Thomas Djamaludin saat jumpa pers di Hotel Sahid Jaya Solo, Selasa (9/8).

Thomas Djamaludin kepada pers memaparkan, penguasaan teknologi ruang angkasa adalah sesuai amanat Undang-undang Nomor 21 Tahun 2003 tentang Keantariksaan. Penjabarannya, LAPAN membuat tujuh langkah strategis untuk mengantar Indonesia menjadi negara yang menguasai ruang angkasa tanpa bantuan negara lain.

Dipaparkan, Satelit berkode A-1 hingga A-3 telah diluncurkan berturut-turut pada tahun 2007, 2015 dan 2016 dengan bantuan fasilitas roket milik India. Berikutnya Satelit A-4 dan A-5 akan mengorbit pada tahun 2018 dan 2020.

Ke depan, seluruh jaringan satelit bisa digunakan untuk kemakmuran negeri. Sebut saja untuk pertahanan dan keamanan, pengamatan cuaca, pertanian, dan perikanan dan sebagainya.

“Misalnya dengan mengamati  lautan, kita jadi tahu di mana ikan berada. Jadi ke depan, nelayan kita melaut tidak lagi untuk mencari ikan karena posisinya sudah diketahui. Tinggal kejar ke posisinya, tangkap,” ujarnya.

Thomas Djamaludin juga menyebut, saat ini LAPAN terus menyempurnakan rancangan roket yang bisa digunakan untuk meluncurkan satelit. Sesuai kondisi anggaran dan tren teknologi, satelit buatan LAPAN rata-rata berbobot 100 kg sehingga biayanya murah namun manfaat yang dihasilkan bisa maksimal jika diintegrasikan dengan sejumlah akses data termasuk stasiun bumi dan pesawat pemantau nirawak.

Dan yang paling akhir, sekitar tahun 2040 Indonesia akan memiliki bandar antariksa, yakni stasiun untuk meluncurkan satelit. Ada dua tempat yang dipilih pemerintah, antara Biak dan Morotai. Kedua tempat di Indonesia Timur itu memiliki posisi strategis untuk meluncurkan roket berorbit di kawasan garis ekuator.

Editor : Ari Kristyono

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge