0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Sekolah Sungai Didorong Miliki Perpustakaan

Perpustakaan sekolah sungai di bantaran Kali Woro Purba di Dukuh Gunung Ampo, Desa Kemudo, Kecamatan Prambanan, Klaten (dok.timlo.net/aditya wijaya)

Klaten — Indonesia terus menghadapi resiko bencana dan perubahan iklim yang semakin meningkat. Salah satu yang menjadi perhatian pengurangan resiko bencana (PRB) oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) adalah gerakan restorasi sungai.

“Gerakan restorasi sungai adalah gerakan untuk menyelamatkan dan mengembalikan sungai pada kondisi alamiahnya yang bersih, sehat, produktif, dan lestari. Serta bermanfaat maksimal untuk manusia dan lingkungan secara berkelanjutan,” ujar Direktur PRB BNPB Lilik Kurniawan, Minggu (7/8).

Ditemui dalam kegiatan pembekalan fasilitator Sekolah Sungai Bengawan Solo di bantaran Kali Woro Purba di Dukuh Gunung Ampo, Desa Kemudo, Kecamatan Prambanan, Klaten, dia menjelaskan, PRB dibagi menjadi hulu, tengah, dan hilir. Bagian hulu mencakup restorasi wilayah pegunungan, bagian tengah restorasi sungai, dan hilir restorasi laut.

Berbasis budaya lokal dan kekuatan persatuan masyarakat, tahun ini BNPB melaksanakan gerakan PRB restorasi sungai di wilayah sungai Bengawan Solo dan Citarum. Pasalnya ada 16 kabupaten/kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang dilalui aliran sungai Bengawan Solo. Sedangkan sungai Citarum ada 5 kabupaten/kota di Jawa Barat yang dilalui.

“Ciptakan komunitas di pinggir sungai sebagai agen untuk pengelolaan sungai. Untuk restorasi Bengawan Solo ada 48 orang peserta pembekalan, berasal dari 10 kabupaten di Jawa Timur dan enam kabupaten di Jawa Tengah,” kata Lilik.

Hal senada juga disampaikan Kepala BNPB Willem Rampangilei. Adaptasi alam yang berbasis budaya lokal menjadi modal sosial utama keberadaan sekolah sungai. Sehingga akhir 2014 lalu, terbentuk gerakan pegiat sungai di Yogyakarta seperti Komunitas Kali Code, Winongo, Gajah Wong, dan Kali Kuning. Mereka hadir untuk menginisiasi Gerakan Restorasi Sungai Indonesia.

“Gerakan PRB ini diharapkan dilaksanakan secara massive dan berkelanjutan oleh semua pihak sehingga menjadi sebuah nilai budaya di masyarakat. Bahkan pusat pendidikan informal berbentuk perpustakaan diperlukan sebagai wadah informasi dan pengetahuan bagi komunitas sungai untuk mengembangkan gerakannya,” tutur Willem usai meresmikan perpustakaan Kali Woro Purba.

 

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge