0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Sebelum Freddy Budiman Dieksekusi, Haris Azhar Mengaku Hubungi Istana

Haris Azhar (merdeka.com)

Timlo.net – Koordinator KontraS, Haris Azhar, dilaporkan ke Bareskrim Polri karena membeberkan testimoni terpidana mati Freddy Budiman yang mengaku menyetor uang ratusan miliar ke aparat.

Haris menjelaskan awal mula dirinya mengeluarkan pesan itu ke media. Pesan berantai itu sampai ke publik pada Jumat (29/7) pagi tepat setelah malam harinya proses eksekusi terhadap Freddy dilakukan.

Dia mengatakan, sebelumnya dia berusaha mengomunikasikan data yang dimilikinya soal keterlibatan sejumlah institusi dalam kasus Freddy pada Presiden Joko Widodo lewat Jubir Kepresidenan, Johan Budi.

“Saya sampaikan lewat lisan, hari Senin (25/7) lalu lewat telepon pada Johan Budi, saat itu saya sedang di Palu,” kata Haris, Rabu (3/8).

Alasan memilih Johan Budi, karena diyakininya sebagai orang dekat Jokowi. Kemudian soal waktu, dia beralasan kenapa membuka informasi itu di detik-detik proses eksekusi mati karena berharap lebih direspons cepat, sekaligus memastikan apakah memang benar Freddy termasuk yang eksekusi mati tahap tiga.

“Saya menunggu kepastian eksekusi dulu, kedua saya menunggu namanya dia masuk atau tidak, dan saya ketemu momennya, dimana orang mengingat kasus dia,” ujarnya.

Senin itu, lanjut dia, Johan Budi tak memberikan respons. Lalu dia memutuskan menyebarluaskan testimoni Freddy pada Kamis. Namun terlebih dulu, dia juga sudah mengirimkan testimoni serupa ke Johan Budi.

Selang beberapa saat, Johan menghubunginya. Kala itu, katanya, Johan mengatakan melihat Jokowi berbincang dengan Jaksa Agung, namun tak paham apa yang dibahas.

“Menurut Johan Budi, Jaksa Agung bilang masih menunggu keputusan Presiden. Di hari Kamis itu, di suatu acara Johan Budi melihat Presiden dengan Jaksa Agung bersama, tapi dia tidak melihat adanya obrolan antara Jaksa Agung dengan Presiden tentang hal itu,” papar Haris.

Haris tetap bertekad testimoni yang dimilikinya sampai ke Jokowi. Namun tak kesampaian karena eksekusi mati tinggal beberapa jam lagi, hingga akhirnya dia menyebarkan informasi yang diterimanya.

“Saya menyebarkan informasi itu kira-kira 3 sampai 4 jam sebelum eksekusi Freddy Budiman,” ujar Haris.

Satu jam berselang testimoni itu mungkin sampai ke publik, dia mengaku ditelepon Kepala Humas BNN Slamet Pribadi. Slamet menghubunginya hanya untuk memastikan broadcast yang tersebar itu.

“Jadi sebelumnya, 2 pejabat itu (Johan Budi dan Slamet) sudah tahu informasi itu. Mungkin saya tidak optimal, tapi bukan berarti saya tidak mau ngapain-ngapain. Saya merasa sudah bicara pada orang yang tepat, karena hanya Presiden yang bisa memberhentikan itu di detik-detik terakhir adalah Johan Budi,” jelas dia.

[lia]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge