0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Polisi Telusuri Profil Mendiang Freddy Budiman

Freddy Budiman (merdeka.com)

Timlo.net – Polisi masih menelusuri kebenaran pernyataan mendiang Freddy Budiman yang diduga menyuap aparat BNN. Termasuk informasi dari penasihat hukum yang menangani kasus Freddy masih dicari untuk mengungkap kebenaran dari testimoni tersebut.

Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Boy Rafli Amar, mengatakan selain mencari informasi dari penasihat hukum Freddy, polisi juga tengah mendalami kesaksian sejumlah pihak mengenai perilaku Freddy dalam bermasyarakat.

“Jadi kita pengen tahu profil Budiman di mata orang lain. Itulah yang sampai saat ini berjalan dan sikapi, sekaligus menguji tentang kualitas konten yang disampaikan Haris Azhar,” kata Boy Rafli, Selasa (2/8).

Boy mengaku kesulitan menelisik kebenaran dari informasi itu. Alasannya, informasi yang disampaikan Haris Azhar belum spesifik hanya bersifat umum.

Termasuk, soal aliran dana yang masuk kepada pejabat tinggi TNI, Polri dan BNN sebesar Rp 90 miliar hingga Rp 450 miliar untuk mengamankan transaksi narkoba dalam skala besar.

“Jadi informasinya masih bersifat umum, tentunya tidak bisa sesegera mungkin melakukan konfirmasi tanpa adanya informasi yang detail,” ucap mantan Kapolda Banten itu.

“Juga soal pemberian uang kan disebutkan ada Rp 450 miliar, ada Rp 90 miliar, adakah bukti pendukung yang bisa kita lanjutkan ke PPATK? Itu besar loh. Jadi seandainya ada bukti mendukung seperti transfer uang pada siapa kan kita bisa langsung minta keterangan pada si A,” jelasnya.

Dia menambahkan, sebelum menyikapi lebih jauh testimoni tersebut, polisi harus benar-benar menelaah isi pesan yang disampaikan Haris. Mengingat, dalam testimoni itu institusi Polri, TNI dan BNN jelas disebut ikut terlibat.

“Jadi kualitas konten sangat penting karena di sana berkaitan dengan hal-hal yang disampaikan pada institusi TNI, Polri dan BNN,” tegasnya.

Sebelumnya, Koordinator KontraS Haris Azhar menyebarkan testimoni dari terpidana mati Freddy Budiman. Diakui Haris, pesan itu didapatkannya langsung dari Freddy saat melakukan kunjungan ke Lapas Nusakambangan.

Menurut dia, saat itu Freddy menceritakan kalau dirinya hanya operator penyelundupan narkoba skala besar. Kepada Haris, Freddy mengaku kerap menghubungi sejumlah pejabat termasuk, polisi dan BNN untuk mengatur kedatangan narkoba dari China.

“Kalau saya mau selundupkan narkoba, saya acarain (atur) itu. Saya telepon polisi, BNN, Bea Cukai, dan orang yang saya hubungi itu semuanya titip harga,” kata Haris meniru cerita Freddy.

Selain itu, Freedy juga menceritakan bahwa harga narkoba yang dibeli dari China hanya seharga Rp 5.000 per butir. Namun, saat di Indonesia harga narkoba melonjak tinggi lantaran sejumlah pejabat tersebut meminta keuntungan dari setiap penjualan per butirnya.

Meski demikian, testimoni ini menjadi tanda tanya besar bagi publik. Sebab, pesan tersebut dimunculkan ke publik setelah Freddy dieksekusi mati pada Jumat (29/7) lalu.

[lia]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge