0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Dua Perempuan Penambang Pasir Masih Bersaudara Ipar

Iring-iringan pemakaman jenazah penambang pasir manual Gunung Merapi asal Kecamatan Kemalang Klaten (timlo.net/aditya wijaya)

Klaten — Sarjiyem (30) warga Desa Sidorejo dan Legiyem (32) warga Desa Tangkil, bertaruh nyawa untuk mencukupi kehidupan sehari-hari. Dua srikandi penambang pasir tradisional Gunung Merapi asal Kecamatan Kemalang, Klaten ini, Selasa (26/4), akhirnya harus mengakhiri hidupnya lantaran tewas tertimbun longsoran.

“Keduanya masih bersaudara ipar. Mereka berangkat menambang bersama ayah dari Legiyem dan mertua Sarjiyem, Narso Wiyono, di alur Sungai Tawang Kulon, di Dukuh Tawang, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang,” kata Kepala Desa (Kades) Sidorejo, Jemakir, Selasa (26/4).

Dikatakan, lokasi penambangan berjarak 100 meter dari rumah Narso yang satu atap dengan Sarjiyem dan suaminya, Kersi di Dukuh Tawang. Sedangkan, menantunya Legiyem tinggal bersama suaminya, Darbo, di Dukuh Margomulyo, Desa Tangkil.

Tidak seperti penambang pasir bermodal besar yang menggunakan alat berat ‘backhoe.’ Ketiga penambang rakyat ini mengais pasir dan batu Merapi bersenjatakan alat manual seperti cengkrong. Hampir setiap hari mereka menggantungkan hidupnya di cekungan tebing sungai Tawang Kulon tersebut.

“Kalau sudah terkumpul (pasir dan batu), biasanya tiga hari sekali dinaikkan ke truk. Tak jarang mereka mengajak anak mereka yang masih kecil untuk menambang. Tapi hari ini tidak,” kata Jemakir.

Sementara, tetangga Narso, Darto (50) mengungkapkan, selain bertani, sebagian besar warga mencari rejeki dengan menambang pasir secara manual. Hasilnya dalam 3-4 hari warga menghasilkan satu rit pasir yang dijual Rp 400 ribu.

“Jika dijual di luar, per satu rit bisa mencapai Rp1,2 juta. Tapi resiko nya ya itu (longsor). Jadi penambang biasanya sudah antisipasi, kalau tahu ada pasir yang bergerak rintik-rintik langsung keluar,” ungkap dia.

Kini kedua ibu-ibu penambang rakyat ini telah dikebumikan. Legiyem yang dimakamkan di Tangkil meninggalkan dua anak yang masih bersekolah di bangku SD dan berusia balita. Sedangkan Sarjiyem di Sidorejo juga meninggalkan dua anak yang masih SMP dan berusia empat tahun.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge