0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Batik Wonogiren Lekat dengan Kanjeng Wonogiren

Motif Batik Wonogiren karya siswa SMAN III Wonogiri, dalam Pameran Batik Wonogiren di pendopo Rumdin Bupati Wonogiri (timlo.net/tarmuji)

Wonogiri — Batik Wonogiren jika ditelisik kembali asal usulnya, tak lepas dari jasa seorang istri bupati Wonogiri dijaman sebelum kemerdekaan. Selain istri bupati saat itu juga seorang seniwati dari Puro Mangkunegaran kala itu, yakni Kanjeng Bendoro Wonogiren atau Raden Ayu Handoyo Ningrat.

Kanjeng Wonogiren sendiri hidup dan berkembang dimasa pemerintahan Kanjeng Aryo Adipati Mangkunegaran VII dan VIII. Istilah Wonogiren sendiri, bukan berarti dari Wonogiri tapi adanya akhiran ’an’ lebih mengandung makna kata milik yang berarti Kanjeng Wonogiren.

Lantaran keturunan bangsawan Mangkunegaran, Kanjeng Wonogiren memiliki seni kreator tersendiri dalam soal batik membatik. Termasuk pemilihan bahan, pewarna serta motif babaran. Sedang di Wonogiri sendiri, seni batik cikal bakalnya berasal dari Kecamatan Tirtomoyo.

“Babaran Kanjeng Wonogiren terkenal lantaran babarannya bersih, lembut dan lebih muda, berbeda dengan batik tradisional yang saat itu beredar. Dimana warnanya lebih tajam karena pewarnaannya menggunakan rempah-rempah, yaitu sogo jambal,” ungkap pelestari batik yang juga keturunan generasi kedua Batik Wonogiren, Sri Purwanto, Sabtu (23/4).

Berdasarkan Keputusan Bupati Wonogiri Nomor 431/03/501/1993, Batik Wonogiren terdiri dari empat ciri. Yaitu corak bledak, dasaran jene (kuning kecokelatan), sekaran (lukisan bunga), dan babaran (guratan) pecah.

Motif babaran pecah yang kerap disebut dengan motif remukan, sebenarnya merupakan hasil yang cacat. Namun, karena bentuknya yang acak dan tak sama, motif remukan terlihat unik dan menarik. Motif remukan ini pun lantas menjadi pembeda dengan motif batik dari daerah lainnya.

“Namun diera sekarang batik Wonogiren berkembang mengikuti perkembangan jaman serta permintaan pasaran. Bahkan sekarang tumbuh subur motif baru, semisal motif bunga dan jambu mete,” katanya.

Dengan banyaknya produk batik di Indonesia ini, tak jarang hasil karya dan warisan budaya ini dicaplok bangsa lain.

“Tidak hanya pemerintah saja, yang kini memiliki, namun para akademisi dan pengusaha pun mulai menggerakkan roda pelestarian budaya. Tak kalah pentingnya yakni mengatasi masalah tenaga kerja,” terangnya.

Sri Purwanto mengakui jika saat ini para pembatik senior sudah sepuh (tua-red), sehingga perlu adanya regenerasi. Untuk pelestraian batik Wonogiren, khususnya di Kecamatan Tirtomoyo, anak sekolah diberikan mulok batik. Sejumlah pelatihan gratis sering digelar agar seni batik Wonogiren tetap terjaga kelestariannya.

“Di Wonogiri saat ini sudah ada sekitar 250 IKM Batik, yang bermunculan di beberapa kecamatan di Wonogiri, dengan menyerap tenaga kerja hampir seribuan orang,” tandasnya.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge