0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Jengkol Lebih Mahal dari Ayam Potong, Ini Alasannya

Pedagang jengkol (dok.merdeka.com)

Timlo.net — Harga panganan jengkol kembali naik. Kenaikan harga jengkol disebabkan pasokan ke penjual jengkol menurun.

Di pasar induk Kramat Jati misalnya, harga jengkol naik Rp 4.000 per kilogram (kg). Harga jengkol yang awalnya mencapai Rp 32.000 menjadi Rp 36.000 per kg.

“Sudah seminggu ini harganya tinggi,” ujar Suparto, pedagang jengkol, di Jakarta, Jumat (22/4).

Suparto mengaku, jengkol yang berada di pasaran memiliki kualitas yang bagus. Wajar apabila harga jengkol masih tinggi saat ini.

“Ini tidak ada yang bolong-bolong, belum direndem pula,” kata dia.

Penghasilan Suparto pun meningkat hampir 30 persen per hari. Dalam sehari, dia mampu menjual kurang lebih 100 kg jengkol.

Dia menegaskan, pasokan jengkol mengalami penurunan, sedangkan permintaan sangat banyak. Atas dasar itulah, harga jengkol masih tinggi hingga kini.

Suparto juga mengatakan turunnya pasokan bukan karena cuaca melainkan banyaknya permintaan. Jengkol masih menjadi komoditas dagang yang menjanjikan.

“Jadi ini masih banyak yang cari,” jelas dia.

Sementara itu, pedagang jengkol lainnya, Parjiyo mengatakan para pedagang jengkol rata-rata hanya mendapatkan untung tipis sekitar Rp 2.000 per kg.

“Rata-rata kami ambil keuntungan sekitar Rp 2.000 saja”, pungkas dia.

Sebelumnya, harga jengkol di pasar tradisional Jakarta mengalami kenaikan yang cukup tinggi, bahkan harganya lebih mahal di banding ayam potong.

Pantauan merdeka.com, beberapa hari lalu, harga jengkol mencapai Rp 50.000 per kilogram ,sedangkan ayam potong perekornya hanya Rp 41.000 per ekor ukuran besar.

“Kalau buat harga enggak bakalan bisa stabil, dari siapa saja yang ngejabat enggak bakalan bisa segitu-gitu aja harganya. Harga tergantung dari panennya, kalau lagi banyak ya murah, kalau lagi langka ya harganya tinggi,” ujar salah satu pedagang, As, di Pasar Minggu, Jakarta.

Menurutnya, harga normal jengkol per kilogram biasanya hanya mencapai Rp 20.000, dan biasanya terjadi saat musim panen jengkol yang terjadi di kalimantan.

Akibat kenaikan harga yang cukup tinggi, para pedagang terpaksa mengurangi stok dagangannya. Biasa per hari menyediakan barang hingga 150 kilogram kini hanya sekitar 30 kilogram.

Sebelumnya, seorang pedagang Warteg di Jalan Menteng, Kota Bogor, Jawa Barat, mengeluh selama tiga hari terakhir ini ia tidak dapat menyajikan hidangan semur jengkol kepada pelanggannya, karena harganya mahal.

“Harga jengkol lebih mahal dari harga ayam,” kata Tuti (35).

Menurut Tuti, harga jengkol naik drastis yang biasanya dari Rp 18.000 hingga Rp 20.000 per kilogram menjadi Rp 35.000 per kilogram. Sementara harga ayam potong per kilonya hanya Rp 30.000.

“Kalau Rp 35.000 mana sanggup saya beli, padahal banyak yang menanyakan jengkol. Tapi saya tidak kuat belinya,” kata dia seperti dikutip Antara.

Tuti yang sudah berjualan Warteg sejak 2003 ini biasa membeli jengkol atas permintaan pelanggannya. Untuk berbelanja kebutuhan warteg dia belanja di Pasar Jambu Dua. Sehari dia biasa membeli dua kilogram. [sau]

Sumber: merdeka.com

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge