0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Lahan Tebu di Boyolali Menyusut, Ini Penyebabnya

Perkebunan tebu (dok.timlo.net/red)

Boyolali — Lahan tebu di wilayah Boyolali mengalami penyusutan hingga 43.844 hektar, dari sebelumnya 438.440 hektar. Menyusutnya lahan tebu diduga karena banyaknya petani yang beralih menanam jagung dan singkong. Selain itu juga disebabkan anjloknya harga gula.

“Imbasnya tahun ini target panen gula 2.106 ton tidak tercapai,” kata Kabid Kabid Produksi Perkebunan Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Boyolali, Widodo, Kamis (21/4).

Berkurangnya minat petani menanam tebu, lanjut Widodo, dikarenakan hasil panen tebu sudah tidak menguntungkan karena harganya sudah tidak sesuai dengan biaya proses perawatan tanaman. Kondisi ini semakin parah pada tahun 2014 silam, ketika harga  pembelian gula oleh pabrik, di bawah harga pembelian pemerintah (HPP). Saat itu harga pembelian gula oleh pabrik hanya Rp 8 ribu/kg. Sementara HPP gula mencapai 8.500/kg.

“Isu gula import menjadi petani semakin enggan menanam,” tambahnya.

Selama ini, tanaman tebu 70 % ditanam di lahan irigasi tekhnis, sisanya di lahan tadah hujan. Namun saat ini, kondisi berbalik, 70 % ditanam di lahan tadah hujan, dan lahan irigasi memilih bercocok tanam padi. Untuk wilayah Boyolali, lahan tebu masih didominasi di kawasan utara, seperti Kecamatan Wonosegoro, Andong, Kemusu, Klego, Simo, dan Nogosari. Hasil panen biasanya dijual ke pabrik gula, seperti ke PG Tasik Madu Karanganyar, PG Gondang Baru Klaten, dan sebagia ke PG Madu Kismo di Yogyakarta

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge