0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Mengenal Kartini-Kartini Perkasa Girimarto

Wanita pekerja di gudang milik Sumiyem di Kecamatan Girimarto (dok.timlo.net/tarmuji)

Wonogiri — Mungkin sosok wanita asal Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar ini sudah tidak asing lagi di Wonogiri. Jika Kartini jaman dulu membantu wanita dengan tulisan-tulisannya, berbeda dengan Sumiyem. Ia membantu wanita dengan kebesaran hatinya.

Di usianya yang menginjak 50 tahun dia masih aktif menjalankan bisnis jual beli hasil bumi. Sumiyem yang kerap disapa Bunda ini merupakan pengusaha hasil bumi yang memiliki kedekatan dengan masyarakat Wonogiri, khususnya di Desa Bubakan, Kecamatan Girimarto. Pasalnya, Desa Bubakan merupakan tapal batas Wonogiri dengan Karanganyar.

Hampir 15 tahun dirinya memperkerjakan tenaga kerja wanita dan pria yang berasal dari Kecamatan Girimarto dan Sidoharjo.

Mereka bekerja di gudangnya yang terletak ditengah-tengah pusat kota Kecamatan Girimarto. Mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB, mengisi ratusan sak beras ukuran 15 kilogram.

“Ada 15 ibu-ibu yang ikut kerja di sini,” ungkap Sumiyem, Rabu (20/4).

Selama ini Sumiyem merupakan salah satu mitra Bulog Wonogiri dalam hal suplai beras miskin.Wajar jika dirinya membutuhkan tenaga kerja banyak.Para wanita yang notabene ibu rumah tangga iniĀ  bekerja dengan sistem borongan.

Namun demikian, untuk borongan beras miskin (Raskin), menurut dia hanya musiman, berlangsung sekitar empat hingga lima bulan.

“Kalau borongan Raskin sudah rampung,mereka masih tetap kerja disini.Ganti memilah-milah kacang yang nantinya saya kirim ke pabrik,” jelasnya.

Sebenarnya, lanjutnya, dari efiensi waktu dan biaya jauh lebih mahal menggunakan tenaga manusia daripada menggunakan tenaga mesin.

“Sebenarnya saya bisa saja beli mesin untuk paket beras ini, cukup Rp 200 juta sudah beres,” katanya.

Dalam sehari, dirinya harus mengeluarkan uang sekitar Rp 400 ribu untuk upah pekerja. Belum lagi, jika diperinci dengan jatah makan siang dan camilan lebih dari Rp 600 ribu.

Namun demikian, hati nuraninya berkata lain. Dia tak tega melihat para ibu yang sudah bertahun-tahun bekerja dengan dirinya. Rasa iba muncul ketika pekerjanya memohon agar tidak membeli mesin sebagai pengganti tenaga kerjanya.

“Ya bagaimana lagi, wong saya juga tidak tega, mereka sudah saya anggap keluarga sendiri, saya juga tahu bagaimana kehidupan dan perekonomian sehari-harinya,” terangnya.

Wanita-wanita di gudang Sari Daun milik Sumiyem ini merupakan wanita perkasa. Dalam sehari, hampir sekitar dua ton beras Raskin siap kirim ke gudang Bulog.

“Hasilnya tak sebanding dengan modal yang saya keluarkan, tapi tidak apa-apa, paling tidak saya bisa sedikit mungkin meringankan beban hidup mereka, itung-itung untuk bekal nanti di akherat,” tambahnya.

2 Lampiran
Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge