0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kisah Penambang Pasir Menantang Maut

Warga nekat menambang di lereng perbukitan setinggi 170 meter Kawasan Gunung Merapi tanpa alat pengaman standar (foto: Nanin)

Boyolali – Sungguh miris kondisi penambangan manual di Kawasan Lereng Merapi. Tak lagi mencari pasir dan batu di sepanjang sungai, namun penambang sudah merambah ke lereng-lereng diperbukitan sepanjang sungai.

Ironisnya, warga menambang di bukit dengan ketinggian 170 meter tanpa menggunakan alat pengaman.

“Kita hanya gunakan tambang diikatkan ke pinggang biar tidak jatuh,” kata warga Jrakah, Selo, Sukiman, Sabtu (16/4).

Sukiman bersama tiga temanya, Paijo dan Sumar, mengaku terpaksa menambang ke bukit. Pasalnya di bawah sudah tidak ada lagi pasir dan batu.

Untuk bisa naik ke bukit, mereka mengunakan tangga dari bambu. Mereka biasa naik dari pukul 06.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB, hanya saat makan siang mereka turun.

“Sudah biasa, tidak takut jatuh,” tutur Sukiman.

Menambang di bukit sudah dilakukan sejak setahun ini. Pasir yang dikeruk dengan alat manual langsung turun ke bawah. Setelah terkumpul semua di bawah, baru dijual.

Pendapatan merekapun tidak sebanding dengan taruhan nyawa saat menambang di bukit dengan kemiringan mencapai 180 derajat.

“Sehari pendapatan Rp 50 ribu rupiah,” tandas Sumar.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge