0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ini Alasan Dewan Usulkan Museum Radya Pustaka Dibuat UPTD

Museum Radya Pustaka (dok.timlo.net/tyo eka)

Solo – Bukan tanpa alasan, kalangan legislatif mengusulkan pengelolaan Museum Radya Pustaka menjadi unit pelaksana teknis daerah (UPTD) dib awah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Solo. Mengingat, kekhawatiran akan munculnya sengketa kepemilikan benda purbakala yang menjadi aset museum tertua di Indonesia tersebut.

“Ketika muncul perselisihan, gimana nasib aset disana. Apakah milik Pemkot, milik komite atau yayasan, atau milik siapa. Ini kan juga gak jelas,” terang anggota Komisi IV, Reny Widyawati, Jumat (15/4).

Jika mengacu pada UU No 11/2010 tentang Cagar Budaya danPerda No 10/2013 tentang Pelestarian Benda Cagar Budaya, kata Reny, sudah menjadi tanggung jawab negara dalam mengelola benda cagar budaya. Meski begitu, kepemilikan benda purba bernilai tinggi dan memiliki rekam jejak perjalanan Kota Solo ini tidak gampang dalam mengelola dan mengurusnya. Diperlukan pihak yang kompeten dan konsisten supaya benda cagar budaya ini dapat terjaga dan menjadi warisan generasi yang akan datang.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Museum Radya Pustaka, ST Wiyono tak menampik kekhawatiran dari sejumlah pihak tersebut. Pihaknya juga berpikir hal yang sama dengan yang dialami para anggota dewan. Selama ini, aset yang dimiliki Museum Radya Pustaka merupakan sumbangan dari sejumlah pihak. Disisi lain, pengelola Museum Radya Pustaka juga tidak berhak untuk mengklaim bahwa itu milik mereka.

“Museum ini isinya kan banyak dari hibah dan sumbangan orang-orang. Jadi, aset yang ada disini merupakan milik warga Solo. Digunakan untuk pengetahuan dan mempelajari sejarah. Bukan milik segelintir orang,” terang pria dan juga Seniman Solo tersebut.

Disinggung terkait penutupan Museum Radya Pustaka, Wiyono mengaku sangat berhati-hati menerima dana dari pihak luar. Selain dapat mempengaruhi netralitas komite, sumber dana dari luar pemerintah dikhawatirkan akan menimbulkan gesekan dengan pihak pemerintah.

“Maka dari itu, kami sabar. Kami ngampet dan cuma njagakne dana hibah. Kami gak mau grusa-grusu terima sana, terima sini. Malah nanti ada tendensi. Kan repot juga,” ungkapnya.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge