0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Hiu Paus Tutul Terdampar di Bone Bolango

Hiu Paus Tutul (www.backpackerindonesia.com)

Timlo.net – Kehadiran Hiu Paus Tutul (Rhincodon Typus) di pantai Desa Botubarani, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, menjadi pusat perhatian warga dan wisatawan. Sayang, tidak banyak yang paham konservasi, sehingga ikan jenis langka yang jinak ini menjadi “mainan” pengunjung yang tidak paham. Ada yang pegang-pegang badan dan siripnya, ada yang menyentuh kepalanya, bahkan ada yang mendekat dengan perahu nelayan.

“Mohon pengunjung jangan ada yang menyentuh ikan raksasa itu,” kata Tenaga Ahli Wisata Bawah Laut Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Cipta AG, seperti rilis yang diterima Timlo.net, Selasa (12/4).

Apalagi, dari sekitar 8 ekor hiu paus yang terpantau, tiga diantaranya mulai mengalami luka-luka di bagian mulut, sirip dan beberapa bagian tubuhnya. Selain itu, pada beberapa bagian tubuh hiu paus itu terdapat bercak cat berwarna hijau dan merah muda yang diduga akibat senggolan dengan perahu yang ditumpangi pengunjung.

Di media sosial (medsos), cara memperlakukan hiu paus seperti ini dikritik para divers dan pencinta lingkungan.

“Hal mendasar dan penting untuk diketahui masyarakat adalah, dilarang menyentuh dengan sengaja, bahkan memotret pun tidak boleh menggunakan flash. Tidak boleh menggunakan motor dan tidak menghalangi pergerakan natural dari hiu paus. Mohon hal ini dipahami dengan baik, kita harus menjaga kelestarian mereka,” harap Cipto AG.

Beberapa foto yang di upload di Facebook dan media sosial lain memang menunjukkan cara yang agak membahayakan hiu paus itu. Kelihatannya bersahabat, bergurau, atau bahkan hanya untuk kepentingan pengambilan foto-foto saja. Mungkin, mereka juga tidak terlalu paham, bahwa cara itu membahayakan hiu hiu paus itu.

Karena itu, Cipto AG memohon agar info ini disebar luaskan ke warga dan wisatawan yang sedang berada di Gorontalo, jangan diperlakukan seperti binatang piaraan yang lucu-lucu jinak.

“Sekali lagi, mohon jangan disentuh hiu-hiu paus itu. Biarkan mereka bebas dan tidak terganggu oleh kita,” kata Cipto AG lagi.

Masyarakat Gotontalo sendiri sebenarnya sudah sangat familiar dengan ikan hiu paus tutul yang panjangnya antara 5-7 meter itu. Tiap tahun, hewan yang bobotnya sekitar 20 ton itu sudah biasa mampir di kawasan itu.

Karena itu, hiu paus itu sudah menjadi atraksi warga yang bukan hanya sekali ini saja. Orang Gorontalo menyebutnya dengan istilah ikan munggiyango hulalo, ikan hiu paus.

Konstruksi mulutnya seperti paus, tidak buas, tidak ganas, bukan predator manusia, tetapi besarnya lebih mirip hiu besar. Ikan ini termasuk jenis yang ramah dan jinak.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengingatkan, binatang itu harus dilestarikan, bersamaan dengan habitat dan lingkungan hidup tempat mereka hidup dan berkembang.

“Ingat, semakin dilestarikan, semakin mensejahterakan,” kata Menpar Arief Yahya.

Hiu Paus itu, menurut Arief Yahya, bisa menjadi atraksi terbaik dunia. Tidak ada tempat di dunia yang ada ikan langka dari lautan bebas, yang merapat ke pantai dekat pemukiman, berlama-lama di situ, dan tidak ganas.

“Biarkan itu menjadi tontonan khas, atraksi yang tidak ada dunianya di seluruh dunia. Itu akan mengangkat pamor Gorontalo, dengan destinasi yang mendunia. Asal dilestarikan,” ungkap dia.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge