0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Dulu ke Pegadaian karena Kepepet, Sekarang Menabung

Pemimpin Pegadaian Kantor Cabang Klaten, Eka Sri Yuliani (dok.timlo.net/aditya wijaya)

Klaten — Trend masyarakat menyerbu PT Pegadaian (Persero) untuk menggadaikan barang menjelang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) atau biaya sekolah mulai bergeser. Sekarang masyarakat cenderung memilih investasi emas ketimbang menggadaikan barang.

“Trendnya sudah berubah. Kalau jaman dulu orang yang datang ke Pegadaian karena kepepet. Sekarang orang ke Pegadaian itu yang punya perencanaan matang, yakni menabung, menabung, dan menabung,” tutur Pemimpin Pegadaian Kantor Cabang Klaten, Eka Sri Yuliani, Rabu (6/4).

Menurut dia, kebiasaan itu berubah sejak pemerintah gencar memberikan bantuan berupa kartu sakti seperti Kartu Indonesia Pintar. Selain itu, misi Pegadaian saat ini menghadirkan kemandirian melalui pengajuan pinjaman permodalan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dan melayani tabungan emas logam mulia.

Dengan memiliki lima kantor Pegadain mandiri di Kecamatan Gondang, Wedi, Cawas, Pedan, Jatinom, serta tiga klaster di Tegalyoso, Pasar Srago, dan Jonggrangan, pihaknya tetap mengusung jargon ‘mengatasi masalah tanpa masalah’ kepada masyarakat. Prinsip bisnis tetap gadai, namun ada inovasi dalam pemberian layanan kredit.

“Kalau dulu banyak yang bawa kain (jarit), piring, televisi, sekarang hampir 90 persen (digadaikan) adalah perhiasan. Lainnya handphone, netbook, laptop,kamera, mobil juga ada. Jadi ketika nasabah menabung emas, tiba-tiba ada kebutuhan mendesak untuk bayar sekolah, dia cukup mengambil tabungannya. Kalau enggak memindahkan jenis produk yang dia pakai,” ucap Eka saat ditemui di ruangannya.

Ditambahkan, jumlah pemakaian dana kredit oleh debitur (outstanding loan) tertinggi dari delapan unit mandiri dan klaster tersebut berada di dekat Pasar Kraguman, Kecamatan Gondang. Paling tinggi outstanding loan sekitar Rp 9 miliar – Rp 10 miliar, terkecil di bawah Rp 3 miliar per bulan.

“Kalau disana (delapan unit) menjelang musim tanam atau sekolah mungkin masih terpengaruh. Saya memantaunya cuma hal-hal tertentu, tapi untuk kebutuhan apa enggak tahu juga. Maka setiap harinya kami menyediakan dana segar Rp 230 juta untuk seluruh klaten, namun itu diluar saldo batasan minimal masing-masing kantor,” tambahnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge