0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Legenda Brem Nguntoronadi, Ada Sejak Zaman Kemerdekaan

Sugeng Wiyono mengeringkan ribuan brem hasil produksinya. (dok.timlo.net/tarmuji)

Wonogiri — Sejak berabad-abad lamanya Desa Gebang, Kecamatan Nguntoronadi, Wonogiri telah lama dikenal sebagai sentra pembuatan brem. Puluhan keluarga di desa ini menggantungkan hidupnya menjadi pengrajin brem.

Mereka menjaga tradisi leluhur dalam pembuatan brem. Kebanyakan usaha yang mereka lakoni merupakan usaha warisan keluarga yang telah ada puluhan tahun silam.

“Usaha ini saya lakoni sejak tahun 1987, dan kami hanya meneruskan dan mengembangkan usaha orang tua,” ujar warga Dusun Tenggara Lor RT1/RW5 Desa Gebangharjo, Kecamatan Nguntoronadi, Sugeng Wiyono, Minggu (4/4).

Daikui, pembuatan brem di desa itu telah ada sejak lama. Bahkan, tidak diketahui secara pasti siapa yang pertama kali membuat brem di desa itu.

“Sejak sebelum zaman kemerdekaan, para orang tua sudah membuat brem. Sejak dulu, brem Nguntoronadi sudah tersebar ke berbagai daerah. Brem di Solo itu juga banyak yang diambil dari sini,” katanya.

Zaman dahulu, warga rela berjalan kaki dari Nguntoronadi  sampai di MalioboroYogyakarta untuk menjual brem. Bahkan para penjual brem ini konon jika dagangannya belum habis belum pulang.

Dahulu, pembuatan brem masih sederhana. Wajar saja, jika satu perajin hanya mampu memproduksi 8-12 kilogram brem per hari. Pasalnya, mereka hanya menggunakan irus (pengaduk sayur) untuk mengaduk adonan air tape.

Dengan adanya kemajuan teknologi, kini pengrajin telah menggunakan mesin diesel. Dan sekarang memakai mesin listrik. Sekarang, seorang perajin bisa membuat 50-70 kilogram brem per hari.

Dalam sehari, Sugeng membutuhkan bahan baku 1,2 kwintal ketan dan 120 butir ragi. “Produk brem ini sayajual ke berbagai daerah. Seperti Yogya, Purworejo, Purwokerto, dan Mojokerto (Jatim),” tambahnya.

 

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge