0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

3 Desa di Wonogiri Ini Terancam Rawan Pangan

Tanaman padi milik warga roboh (dok.timlo.net/tarmuji)

Wonogiri — Belakangan ini, ada tiga desa di Kecamatan Paranggupito dalam pantauan Pemerintah Kabupaten Wonogiri, karena terancam rawan pangan. Tiga  desa tersebut yakni Songbledek, Gunturharjo dan Gudangharjo. Ketiganya berada dalam satu jalur di dekat garis pantai laut selatan.

“Terhitung sejak bulan Januari kemarin sampai saat ini masih kami pantau,” ungkap Kepala KKP Wonogiri, Stefanus Pranowo, Senin (14/3).

Disebutkan, saat ini ketiga desa tersebut terancam rawan pangan. Hal itu disebabkan sempat tidak turun hujan selama setengah bulan di desa-desa itu.

“Awal Januari sampai pertengahan tidak turun hujan. Padahal tanaman padi waktu itu sedang membutuhkan pasokan air. Sekarang sudah hujan lagi, tapi tanaman terlanjur tidak bisa tumbuh dengan baik,” terangnya.

Dikatakan, dipastikan terjadi penurunan kualitas panenan nantinya. Hanya saja, dia tidak berani menyebut berapa persen penurunan itu. Yang jelas, jika sampai terjadi, dipastikan ketersediaan pangan menipis dan perlu disuplai bantuan dari pemerintah.

“Yang jelas sampai saat ini ada pengajuan bantuan pangan, tapi kita sudah siap jika sewaktu-waktu butuh bantuan pangan logistik siap diluncurkan,” jelasnya.

Camat Paranggupito Haryanto mengungkapkan adanya penurunan tingkat produksi panenan warga di Desa Gunturharjo, Songbledek, dan Gudangharjo. Lantaran pasokan air sempat terhenti dua pekan lebih, padahal tanaman tengah membutuhkan suplai air berlebih. Seperti diketahui petani Paranggupito lahan pertanian tadah hujan,yang mengandalkan curah hujan. Ada sekitar 13 ribu hektar tanaman padi yang mengalami penurunan hasil produksi.

“Kemungkinan ada penurunan sekitar 40 persen lebih. Sebenarnya bukan gagal panen, wong tanamannya masih hidup dan juga berbuah tapi bulir gabah itu kopong (tidak berisi),” katanya.

Sampai saat ini diakui belum ada pemerintah desa yang mengajukan laporan permohonan bantuan pangan. Warga, menurutnya masih bisa bertahan hidup sampai saat ini.

“Tiga desa itu memang sering terjadi anomali. Ketika musim penghujan datang sering malah terjadi kekeringan tidak ada hujan,” tandasnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge