0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Bocah yang Pernah Hidrosefalus ini Mulai Alami Kebutaan

Yuanita bersama ibunya, Yuni (dok.timlo.net/daryono)

Solo — Yuanita Dina Novita Sari, bocah kecil 4,5 tahun itu asyik bermain. Senyumnya mengembang. Sesekali ocehan keluar dari mulutnya meski kurang jelas apa yang diucap.

Empat tahun lalu, Yuanita menjalani operasi Hidrosefalus di Semarang. Kala itu, biaya operasi sebesar Rp 50 juta ditanggung oleh Yayasan Anne Avantie dan PMI Solo.

Saat ini, kepala Yunita memang sudah tidak lagi membesar seperti empat tahun lalu. Tinggal kakinya saja yang belum mampu menopang badannya. Hingga kini, bocah kelahiran 11 Oktober 2011 itu masih menjalani terapi kakinya yang tampak kecil dan layu di RS Ortopedi.

Di sisi lain, muncul masalah baru yakni matanya yang diprediksi mengalami kebutaan. Saran dokter mata saat kontrol terakhir, Yuanita diminta disekolahkan di sekolah khusus tuna netra.

“Mungkin karena pengaruh selang saat operasi. Matanya agak kurang bisa melihat. Kemarin dokter mata menyarankan disekolahkan ke Sekarpace (sekolah khusus tuna netra YPAC Jebres). Tapi saya belum tahu tempatnya,” kata ibu Yuanita, Yuni Mayangsari (20) saat berbincang dengan Timlo.net, di rumahnya, Bratan, RT 02/06, Pajang, Laweyan.

Yuni mengungkapkan, selain lokasi sekolah khusus tuna netra itu jauh dari tempat tinggalnya, Yuni juga belum tahu berapa biaya yang dibutuhkan untuk menyekolahkan Yuanita.

Terlebih, sebagai single parent, Yuni tidak bekerja lantaran mengurus putri tunggalnya itu. Sehari-hari, Yuni menggantungkan kebutuhannya pada bapak ibunya, Widodo – Tumiarsih. Keduanya bekerja sebagai buruh catering tetangga.

Untuk pengobatan Yuanita, Yuni tertolong dengan program BPJS. Sejak BPJS diluncurkan, Yuni menjadi peserta BPJS mandiri dengan membayar premi kelas 3. Sebelum memiliki BPJS, setiap minggu, Yuni harus menyediakan uang Rp 700 ribu untuk terapi kaki Yuanita.

“Waktu itu punyanya PKMS Gold. Di RS Ortopedi gak berlaku. Jadi setiap minggu bayar Rp 700 ribu. Belum lagi beli sepatu untuk gip. Sempat karena sudah tidak ada uang berhenti terapi beberapa bulan. Saya dimarai dokternya,” kenang Yuni yang sempat menjadi kasir resto nasi goreng ini.

Kini, Yuni berharap bisa menyekolahkan buah hatinya itu se sekolah khusus tuna netra. Sambil terus melakukan terapi kaki Yuanita.

Editor : Daryono

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge