0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Tokoh Masyarakat : Agama Jangan Dipolitisasi

Temu tokoh dan deklarasi damai (timlo.net/daryono)

Solo — Agama semestinya menjadi spiritualitas dan daya moral dalam berpolitik. Bukan sebaliknya, justru mempolitisasi agama. Demikian salah satu poin yang mengemuka dalam Temu Tokoh dan Deklarasi Damai Pilkada Surakarta 2015 di RM Embun Pagi, Jl Dr Radjiman, Senin(30/11).

“Gereja mendorong agama sebagai spirit, bukan sebagai polisitiasi agama,” kata Pendeta Bambang Mulyanto, saat menyampaikan materinya.

Menurut Bambang, Pilkada merupakan kompetisi politik dimana rakyat menjadi pemain utama. Sebagai kompetisi, pastinya akan ada yang menang dan kalah. Padahal, Pilkada mengeluarkan banyak daya, dana, tenaga dan melibatkan ikatan emosional.

“Maka, Pilkada yang seharusnya menjadi pesta demokrasi penuh suka cita bisa menjadi suasana penuh ketengangan, mencekam dan konflik bila tidak dikelola dengan baik,” ujar dia.

Lantaran itu, lanjut Bambang, Gereja mendorong masyarakat menghargai aspirasi pilihan orang lain. Gereja juga mendorong semua permasalahan diselesaikan dengan mengikuti aturan, bukan mengedepankan kekerasan.

Pembicara lainnya, Arif Wibowo dari Pusat Studi Peradaban Islam IAIN Surakarta mengungkapkan diperlukan kedewasaan dalam berpolitik seperti yang pernah dicontohkan oleh tokoh-tokoh agama di masa lalu. Arif mencontohkan, tokoh Masyumi dimasa orde baru begitu dekat dengan banyak kalangan termasuk dengan tokoh Katholik seperti IJ Kasiom AM Tambunan dari Partai Kristen Indonesia (Parkindo) serta Sutan Sahrir dari Partai Sosialiis Indonesia (PSI).

“Kedewasaan politik yang berujung pada obyektifitas dan keadilan iilah yang membuat integritas Masyumi sangat disegani kawan dan lawan. Bahkan, dulu di Maluku, Masyumi tidak hanya menang di desa-desa muslim, tetapi juga di beberapa desa non muslim,” ujar dia.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge