0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Reksa Pustaka, Perpustakaan Pura Mangkunegaran yang Nyaris Terlupakan

Seorang mahasiswa Jurusan Sastra Jawa UNS sedang mencari referensi naskah kuno untuk tugas kuliahnya. (timlo.net/achmad khalik)

Solo — Konon, tinggi rendahnya suatu bangsa terletak pada susunan karya ilmu yang terekam dalam bentuk buku. Leluhur bangsa, telah memiliki intelegensi tinggi dengan menuangkan sejumlah ide, tatanan maupun karya sastra kedalam sebuah literasi kuno dijamannya. Meski kita berbangga memiliki itu semua, namun kondisi jaman seakan tak mampu membendung makin uzurnya karya yang ditorehkan diatas naskah-naskah kuno itu. Lebih parahnya lagi, naskah kuno milik bangsa ini sebagian rusak, hilang atau bahkan ’dicuri’ oleh bangsa asing.

Itulah, yang seakan terlintas dibenak kita tatkala memasuki ruang ’Reksa Pustaka’ di Pura Mangkunegaran, Solo. Perpustakaan yang berisi naskah literasi kuno ini seakan terseok-seok untuk mempertahanan eksistensi mereka. Ditambah, minimnya kepedulian warga masyarakat Kota Solo untuk ikut melestarikan karya-karya peninggalan raja tanah Jawa, Mangkunegara.

“Biasanya, yang kesini adalah mahasiswa yang mendapat tugas kuliah. Terkadang juga pelajar SMP maupun SMA. Untuk pengunjung dari kalangan masyarakat sangat sedikit. Kalau ada, biasanya sudah berusia lanjut,” kata pelaksana tugas harian Rekso Pustaka Pura Mangkunegaran, Theodora Amani Puji Astuti saat berbincang dengan Timlo.net.

Wanita paruh baya, yang akrab disapa Amani ini mengaku telah puluhan tahun menjadi pengelola di Reksa Pustaka. Meski usianya hampir setengah abad, namun daya ingat keturunan Mangkunegara V ini masih sangat bagus. Dirinya mengungkapkan, banyak karya-karya dari Mangkunegara IV hingga Mangkunegara VII berada dilantai dua sisi timur Pura Mangkunegara.

Sejumlah literasi kuno yang dihasilkan oleh mereka (para raja Mangkunegaran-red) adalah tentang pembangunan bangunan air, filsafat adat jawa hingga tembang-tembang yang menyiratkan tentang keseharian masyarakat Jawa. Tak banyak, dari karya tersebut ada diperpustakaan lain di luar Mangkunegaran. Selain sangat terjaga, pihak perpustakaan juga tidak ingin karya berharga tersebut secara sembarangan keluar dari lingkup Pura itu sendiri.

“Biasanya kalau memang membutuhkan itu bisa di-copy. Kalau untuk aslinya memang tidak boleh keluar,” terang Amani.

Disinggung perawatan terhada naskah kuno ini, Amani mengaku memang pihaknya agak kesulitan untuk melakukan perawatan. Selain sedikitnya SDM yang dimiliki, juga terkendala dengan finansial yang disediakan. Amani bercerita pernah dulu dari pihak Belanda menawarkan bantuan. Namun, dengan embel-embel dapat melakukan copy buku atau justru membawa naskah asli ke Negeri Kincir Angin. Setelah diperhitungkan secara matang, akhirnya pihak Mangkunegaran menolak mentah-mentah tawaran tersebut.

“Awalnya dulu minta copy-an naskah. Itu masih diperbolehkan, namun lama-lama dengan menuturkan berbagai hal mereka ingin supaya naskah asli ikut dibawa kesana (Belanda-red) ya kami tolak,” terang Amani.

Biaya yang dikeluarkan untuk merawat naskah kuno memang tidak sedikit. Apalagi, sebagian naskah telah masuk kategori rusak dan perlu perbaikan. Pihaknya, telah bekerjasama dengan pihak pemerintah untuk melakukan perawatan. Namun, perawatan tersebut tidak bisa sekaligus harus secara bertahap.

“Kerjasama telah dilakukan. Namun, kepedulian masyarakat untuk turut menjaga, mempelajari naskah kuno inilah yang sangat kami harapkan,” harap Amani.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge