0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ajukan Praperadilan, Dua Alat Bukti Dipertanyakan

timlo.net/aditya wijaya

Kuasa hukum dua juru parkir Toko Emas di Prambanan LBH Yogjakarta, Rizki Fatahilah

Klaten — Sidang praperadilan dengan pemohon dua juru parkir (jukir) Toko Emas Semar Jawa di Prambanan kepada Polres Klaten kembali digelar di Pengadilan Negeri Klaten, Senin (23/11). Sidang beragenda pembuktian dari pemohon, Liano Sulistyawan (18) dan Catur Yudha (38).

“Kami menghadirkan pemohon karena sesuai dengan ketentuan KUHAP pasal 184, bahwa salah satu bukti untuk menerangkan peristiwa pidana itu adalah keterangan tersangka. Karena pada penyidikan awal, pasti pihak tersangka adalah saksi,” ujar kuasa hukum pemohon dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogjakarta, Rizki Fatahilah, Senin (23/11).

Selain pemohon, pihaknya juga menghadirkan keterangan saksi ahli dari Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Indonesia (UII) Dr M Arif Setiawan, dan satu saksi lainnya, yakni Ertanto. Namun saksi Ertanto ditolak karena masih mempunyai hubungan keluarga dengan tersangka.

“Saksi ahli kita hadirkan agar bisa menjadi pertimbangan majelis hakim untuk bersikap secara prosedural, bagaimana menggali fakta dan memutuskan praperadilan ini. Karena kami mendalilkan penetapan tersangka harus berdasarkan minimal dua alat bukti,” beber Rizki.

Pihaknya ingin mengetahui penetapan dua jukir sebagai tersangka berdasar alat bukti yang diajukan penyidik Polres Klaten. Adapun penetapan sebagai tersangka diketahui Catur Yudha melalui surat panggilan dari Polres Klaten, nomor S.Pgl/310/X/2015/Reskrim, tanggal 6 Oktober 2015.

”Kalau sejak awal mereka menyampaikan (alat bukti) tentunya kami tidak mengajukan praperadilan. Harus dilihat bukti yang menyebabkan status tersangka kepada klien kami itu yang mana. Kami ingin melihat seberapa kualitas alat bukti untuk membuktikan pasal pengeroyokan (170) yang disangkakan pada Catur dan Liano,” papar Rizki.

Sementara itu, kuasa hukum dari Polres Klaten enggan berkomentar mengenai gugatan praperadilan yang diajukan Catur Yudha dan Liano Sulistyo.

”Saya hanya mendampingi di sidang saja, tidak etis memberikan komentar. Lebih baik meminta komentar dari Humas Polres Klaten,” ujar kuasa hukum perempuan yang tidak mau disebut namanya itu saat ditemui wartawan selesai sidang.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge