0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Populasi Jalak Bali di Jateng Terus Meningkat

(Ilustrasi) Satwa langka yang berhasil diamankan petugas (dok.timlo.net/achmad khalik)
Solo – Populasi satwa dilindungi jenis Jalak Bali di Jawa Tengah terus meningkat. Populasinya di Jawa Tengah bahkan kini menyamai Jawa Barat dan Jawa Timur.
“Populasi Jalak Bali di Jawa Tengah saat ini sekitar 1.500 ekor, menyamai Jawa Barat dan Jawa Timur. Tahun 2005, populasinya hanya 50 ekor,” kata Koordinator Konservasi Keanekaragaman Hayati Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, Sohib Abdilah kepada wartawan, Jumat (20/11) malam di Solo.
Pesatnya populasi Jalak Bali di Jawa Tengah tidak lepas dari berkembangnya penangkaran teregistrasi. Saat ini jumlah penangkar Jalak Bali sebanyak 88 penangkar dari 111 penangkar burung teregister. Padahal di tahun 2005, hanya ada tiga penangkar burung di Jawa Tengah, dimana salah satunya berada di Nusukan, Solo.
Nilai ekonomis yang tinggi membuat Jalak Bali diminati oleh para penangkar. Sepasang Jalak Bali misalnya, bisa dihargai hingga Rp 10 juta. Disamping itu, tehnik penangkaran yang saling dishare, kemudahan perijinan dan kemungkinan dibeli secara legal membuat para penangkar menangkarkan Jalak Bali.
“Orang jadi berpikir, kalau bisa memiliki legal kenapa mesti nyari yang tidak legal,” ujar dia.
Sohib menambahkan, penangkar Jalak Bali di Soloraya terbilang tekun.  Mereka juga cukup memiliki keahlian dalam penangkaran Jalak Bali. Tidak hanya dari sisi tehnik penangkaran, para penangkar juga sudah memiliki jaringan dalam hal pemasarannya.
Disinggung temuan perdagangan ilegal satwa dilindungi di Jawa Tengah, Sohib mengakui masih ditemukan beberapa kasus perdagangan ilegal satwa dilindungi. Meskipun angkanya cenderung turun. Temuan perdagangan ilegal itu terutama pada satwa buruh paruh bengkok seperti jenis Kakak Tua.
“Penangkaran burung paruh bengkok memang tidak secepat Jalak Bali. Kendalanya di frekuensi reproduksinya yang lebih rendah. Kalau Jalak Bali bisa tiga bulan sekali, burung paruh bengkok rata-rata setahun sekali baru beranak,” jelasnya.
Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge