0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kain Jumputan Kurang Dikembangkan

Pakar Javanologi UNS, Prof Sahid Teguh Widodo (dok.timlo.net/tyo eka)

Solo — Pakar Javanologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Prof Sahid Teguh Widodo MHum PhD menyatakan, untuk meningkatkan ekonomi perajin di Kota Solo, kain jumputan perluĀ mendapatkan perhatian serius.

“Terlihat kain jumputan kurang atau belum dikembangkannya motif,” jelas Guru Besar Sastra dan Senirupa UNS saat bertemu Timlo.net, di Kampus UNS, Solo, Jumat (20/11).

Fakta yang ada, kata Sahid, ada perajin yang hanya memroduksi kain jumputan dengan dua motif jumputan yang telah ada di pasaran. Ada juga pengrajin yang membuat jumputan apabila mendapat pesanan.

“Bahkan banyak pengrajin batik di Kampung Batik Laweyan yang sudah tidak memroduksi jumputan lagi, kalaupun memroduksi hanya sebagai pelengkap saja,” jelasnya.

Sahid mengatakan, jumputan merupakan motif pada kain dengan cara perintangan warna. Perintangan warna ini dilakukan dengan mengikat pada bagian kain yang ingin dibuat motifnya. Motif yang tercipta dengan teknik ini tergantung pada benda yang dimasukkan pada ruang kosong tersebut, misalnya uang logam, kelereng, kerikil, sumpit dan sebagainya.

“Benda yang dimasukkan ruang kosong pada kain yang diikat ini akan membentuk motif,” terangnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge