0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Uji Protap Penanganan Bencana Libatkan Ribuan Orang

(Ilustrasi) Penanganan korban longsor (dok.timlo.net/nanang rahadian)

Karanganyar — Koordinasi antarsatuan yang selama ini menjadi kendala dalam penanganan bencana dinilai semakin membaik. Prosedur tetap (Protap) masing-masing bidang dapat bersinergi di bawah satu komando. Meski berasal dari berbagai unsur, masing-masing  unsur sudah memahami arti penting koordinasi di bawah komando satu pintu tanpa melalaikan protap masing-masing.

“Kami melakukan latihan bersama untuk menguji Protap. Kami mengambil lokasi bencana di Desa Waru, Kebakkramat dengan jenis bencana mulai banjir sampai kebakaran dan berbagai peristiwa seperti kecelakaan sewaktu evakuasi sampai wanita melahirkan,” kata Komandan Kodim 0727/Karanganyar Letkol Inf Marthen Pasunda.

Seperti diketahui, Uji Protap ini melibatkan 1.050 orang dari unsur warga, Kodim Karanganyar, Kodim Sragen serta Korem 074/Warastratama Surakarta. Kemudian Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Polri, Dinas Perhubungan, Tagana dan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dilaksanakan 3 hingga 8 November 2015.

Di hari terakhir Uji Protap, disimulasikan warga berikut ternaknya dievakuasi ke tempat pengungsian akhir (TPA) di Lapangan Kebakkramat karena banjir Sungai Bengawan Solo meluap sampai ke tempat pengungsian sementara (TPS) di dua lokasi Desa Waru.

Meski koordinasi mulai membaik, lanjut Dandim, namun tetap butuh perbaikan mulai lini atas sampai bawah. Nantinya, protap bersama inilah yang akan dipakai sewaktu-waktu bencana alam melanda.

“Bupati Karanganyar menunjuk Dandim menjadi SMC dan mendelegasikan komando mengatur instansi Pemkab terkait penanggulangan bencana alam. Selain potensi banjir di Jaten, Kebakkramat dan Gondangrejo, diwaspadai pula bahaya longsor wilayah 4 J (Jenawi, Jatiyoso, Jumapolo, Jumantono),” katanya.

Sedangkan dari DKK, Kepala Bidang Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Fatkhul Munir menyoroti penyediaan data lapangan yang kurang tertata. Padahal ketika bencana melanda, tim medis membutuhkan data akurat kalangan risiko tinggi.

“Jenis makanan Balita dengan dewasa berlainan. Begitu pula obat-obatan manula dan pasien berkeluhan khusus. Tapi masih sukar mendapatkan data itu meski DKK memiliki petugas di pos kesehatan desa (PKD),” katanya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge